Seputar Reaktor Nuklir

DEFINISI DAN JENIS JENIS REAKTOR NUKLIR

  1. Definisi reaktor nuklir

Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti berantai terkendali, baik pembelahan inti (fisi) ataupun penggabungan inti (fusi). Reaksi yang terjadi pada reaktor nuklir baik untuk reaktor penelitian maupun reaktor daya konvensional, masih didasarkan pada terjadinya reaksi pembelahan inti fissil (inti dapat belah) oleh tembakan partikel neutron. Inti fissil yang ada di alam adalah Uranium dan Thorium, sedangkan neutron bisa dihasilkan dari sumber neutron. Reaksi nuklir ini akan menghasilkan energi panas dalam jumlah cukup besar. Pada reaktor daya, energi panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan uap panas, dan selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin-generator yang bisa menghasilkan listrik. Sedangkan pada reaktor penelitian, panas yang dihasilkan tidak dimanfaatkan dan dapat dibuang ke lingkungan.

Selain energi panas, ada dua sampai tiga partikel neutron yang dihasilkan setiap kali terjadi reaksi. Partikel ini bisa dimanfaatkan untuk proses reaksi berikutnya dengan sasaran inti fissil yang belum terbelah. Reaksi ini bisa berlangsung secara terus-menerus pada kondisi neutron dan inti fissil masih memungkinkan.

 Komponen utama reaktor nuklir

1. Bahan Bakar Nuklir

Pada hakekatnya reaktor nuklir itu adalah suatu wadah yang mengandung bahan nuklir yang dapat membelah, yang disusun sedemikian sehingga suatu reaksi berantai dapat berjalan dalam keadaan dan kondisi yang terkendali. Dengan sendirinya syarat agar suatu bahan dapat dipergunakan sebagai bahan bakar adalah bahwa bahan tersebut dapat mengadakan fisi atau pembelahan atom. Untuk maksud ini dikenal hanya tiga macam isotop, yaitu 235U, 239Pu dan 233U. Diantara isotop ini hanya 235U yang terdapat dalam alam, yaitu dengan kadar 0,7 % dalam uranium alam, sedangkan selebihnya terdiri dari 235U dan sedikit 234U.

Bahan bakar uranium biasanya dipergunakan dalam bentuk padat, meskipun dalam berbagai reaktor eksperimentil dalam tahun limapuluhan sering pula dipergunakan sebagai larutan atau cairan dalam bentuk garam uranium (plutonium). Dalam bentuk padat bahan bakar uranium umumnya diperguna¬kan sebagai oksida, yaitu UO2, karena ternyata bahwa dalam bentuk logam murni terdapat keberatan-keberatan yang secara teknik sukar dapat dipecah¬kan.

2. Moderator Dan Reflektor

Neutron yang dilepaskan oleh fisi mempunyai energi kinetik yang relatif sangat tinggi (sekitar 2 MeV) dengan kecepatan yang sangat tinggi. Agar neutron dapat menyebabkan fisi yang berikutnya lagi, energinya harus diku¬rangi sampai mencapai energi termik (0,025 eV). Untuk memperlambat neu¬tron cepat sampai mencapai tingkat energi yang lebih rendah, neutron yang berenergi tinggi itu ditumbukkan pada atom-atom yang terdapat dalam bahan-bahan tertentu, yang disebut moderator. Syarat untuk memilih dan menentukan bahan moderator (dan reflektor) adalah:

1) Pada tiap tumbukan terdapat kehilangan energi neutron yang besar.

2) Penampang penyerapan yang rendah.

3) Penampang penghamburan yang tinggi.

Zat yang mengandung hidrogen merupakan moderator yang baik jika dilihat pada kehilangan energi neutron setelah terjadi tumbukan. Akan tetapi hidrogen mempunyai penampang penyerapan yang relatif tinggi, yang dilihat dari sudut ekonomi neutron tidak menguntungkan. Dalam bentuk persenyawaan, misalnya air normal dan hidrida logam, zat hidrogen itu dapat dipakai sebagai moderator, asalkan dipergunakan uranium diperkaya sebagai bahan bakar. Bahan-bahan lain yang dipergunakan sebagai moderator adalah D20, grafit, berillium dan berillium oksida.

Reflektor dipasang disekeliling teras reaktor dengan maksud agar neutron yang dihamburkan keluar dapat dipantulkan kembali ke teras reaktor. Dengan demikian kebocoran neutron dapat dikurangi. Sifat reflektor jadinya hampir sama dengan moderator, kadang-kadang moderator yang mempunyai sifat yang baik dapat dipergunakan sekaligus sebagai reflektor. Akan tetapi dalam reaktor pembiak cepat yang tidak memerlukan bahan moderator, dipergunakan suatu bahan sebagai reflektor, yang fungsinya hanyalah untuk memantulkan neutron cepat kembali ke teras reaktor.

3. Bahan Pengendali

Untuk menjalankan reaktor nuklir dengan baik diperlukan reaksi pembelahan berantai yang dapat dikendalikan secara teliti. Syarat utama bagi pe¬ngendalian reaktor adalah bahwa keadaan kritis dan nyaris super-kritis dapat tercapai dengan lancar dan teratur. Kemudian kenaikan daya harus dapat ter¬capai dengan kecepatan yang teratur pula, sedangkan pada tiap tingkat daya hendaknya dapat tercapai suatu keadaan yang stabil. Syarat lain adalah bahwa tiap keadaan transien (perobahan cepat yang tidak terkendali dalam reaktor) dapat dikoreksi dengan penggunaan mekanik pengendalian. Akhirnya dikehendaki pula bahwa reaktor pada tiap waktu dapat diberhentikan (shutdown) atau dapat dijalankan (startup).

Pengendalian reaktor biasanya dapat dilakukan dengan mengatur banyaknya penyerapan neutron. Dalam tipe-tipe reaktor yang tertentu pengendalian itu dilakukan dengan mengatur pembangkitan neutron, misalnya dalam tipe bahan bakar cairan dengan merobah konsentrasi bahan bakar.

Pengendalian penyerapan neutron dilakukan dengan mengatur posisi batang-batang pengendali terhadap teras reaktor. Batang pengendai mengandung bahan yang memiliki penampang penyerapan neutron yang tinggi. Dalam operasi jangka panjang perlu diperhatikan empat faktor, yaitu:

1) Deplesi bahan bakar (berkurangkan bahan bakar)

2) Tambahan bahan bakar baru

3) Akumulasi racun radioaktif;

4) Burnout batang pengendali.

Syarat-syarat bahan untuk batang pengendali adalah sebagai berikut:

1) Dapat menyerap neutron dengan mudah

2) Mempunyai kekuatan mekanik yang cukup besar

3) Mempunyai massa yang

4) Tahan korosi.

5) Stabil dalam lingkungan radiasi dan suhu tinggi.

6) Dapat memindahkan kalor dengan baik.

Sebagai bahan batang pengendali biasanya dipergunakan paduan logam kadmium atau borium. Kadmium murni adalah logam berwarna putih kebiru-biruan yang sangat lunak. Sebagai logam murni kadmium tidak dapat dipergunakan sebagai bahan pengendali karena titik leburnya relatif rendah (320°C) sedangkan pada suhu tinggi mudah dioksidasi menjadi serbuk berwarna coklat. Sebagai bahan pengendali biasanya kadmium dicampur dengan perak dan indium sehingga membentuk paduan logam dengan sifat mekaniknya cukup kuat.

Borium murni tidak mempunyai sifat seperti logam; titik leburnya sangat tinggi (2100°C) dan kekerasan kristalnya hanya dilebihi oleh intan. Sebagai bahan pengendali, borium biasanya dipergunakan sebagai karbida (B4C), sebagai paduan logam dengan aluminium (boral) dan belakangan ini sebagai boron baja (boron steel)

4. Pendingin

Setiap inti atom U-235 yang mengalami pembelahan melepaskan sejumlah energi sebesar kira-kira 200 MeV, yang kemudian hampir seluruhnya keluar dalam bentuk kalor. Suatu zat pendingin diperlukan untuk menghindarkan terjadinya suhu yang berlebihan dalam bejana reaktor.

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh zat pendingin ialah:

1) Mempunyai penyerapan neutron yang rendah.

2) Mempunyai perpindahan kalor yang baik.

3) Dapat menggunakan daya pompa yang rendah.

4) Mempunyai titik beku yang rendah.

5) Mempunyai titik didih yang tinggi.

6) Stabil dalam lingkungan radiasi dan suhu tinggi.

7) Tidak peka terhadap keradioaktivan yang di-induksi.

8) Tidak korosi.

9) Aman dalam penanganan.

Berbagai bahan yang dapat dipergunakan sebagai pendingin ialah:

1) Bentuk gas: udara, helium, C02, uap.

2). Bentuk cair: air ringan (H2O), air berat (D2O).

3) . Logam cair: Na, NaK

5. Bahan Perisai

Dalam reaktor yang sedang beroperasi akan terdapat berbagai macam radiasi yaitu partikel alfa dan beta, fragmen (produk) pembelahan, proton, sinar gamma dan neutron. Proteksi terhadap radiasi yang berbahaya ini dila¬kukan dengan memasang bahan perisai sebagai pelindung disekitar bejana reaktor.

Partikel alfa merupaka inti helium, terdiri dari dua neutron dan dua proton dan oleh karena itu mengandung muatan listrik positif yang relatif besar. Partikel alfa diemisi selama peluruhan radioaktif oleh isotop radioaktif dengan massa berat dan energi diskrit yang khas untuk isotop tersebut dan besarnya pada umumnya lebih dari 5 MeV. Partikel alfa melepaskan energinya dalam udara dengan membentuk ion. Jarak tempuh partikel alfa dalam udara hanya 2 sampai 4 cm dan karena itu radiasi alfa tidak merupakan suatu problem dalam disain perisai. Proton juga menyebabkan ionisasi dalam udara, meskipun kurang karena muatan listriknya lebih kecil. Jarak tempuh proton kira-kira 5 sampai 10 kali jarak tempuh partikel alfa, akan tetapi seperti juga partikel alfa, proton tidak menimbulkan kesulitan dalam desain perisai. Partikel beta (elektron dan positron} di-emisi dengan energi yang meliputi spektrum yang luas dengan kecepatan yang lebih besar dari pada partikel al¬fa. Partikel beta dapat juga menimbulkan radiasi jika melalui medan listrik inti atom berat. Pelepasan energi ini timbul sebagai sinar X dengan spektrum yang kontinyu dan disebut “brermstrahlung”, yang mengandung bahaya disamping partikel betanya sendiri. Positron mempunyai sifat yang sama seperti elektron akan tetapi lain dari itu ia dapat bereaksi dengan elektron dan dapat menimbulkan dua foton gamma.

Neutron, seperti juga sinar gamma, mempunyai daya tembus yang cukup be¬sar. Oleh karena neutron tidak mempunyai muatan listrik maka cara satu-sa¬tunya agar neutron melepaskan energinya adalah dengan tumbukan, hamburan elastis dan tidak elastis dan penyerapan. Kesulitan yang timbul untuk menahan neutron adalah karena pada umumnya penyerapan neutron oleh bahan disertai dengan reaksi (n, gamma). Jadi meskipun neutron dapat ditahan, akan tetapi segera diikuti oleh emisi gamma. Dengan demikian suatu perisai untuk menahan neutron harus juga sanggup untuk menahan sinar gamma yang dikeluarkan pada akhir jarak tempuh neutron.

Jika diringkaskan, syarat untuk bahan perisai adalah:

1). Dapat memperlambat neutron

2). Dapat menyerap neutron

3). Dapat menyerap radiasi gamma

Bahan-bahan yang dipergunakan sebagai perisai:

1). Air ringan

2). Beton, dicampuri dengan bahan lainnya, misalnya barit

3). Logam, seperti Fe, Pb, Bi, W, Boral dan lain-lain.

6. Bahan Struktur

Dalam reaktor dengan disain tertentu material untuk bahan bakar moderator (reflektor), pengendalian, pendinginan dan perisai dipilih sedemikian¬ sehingga memenuhi syarat-syarat yang khusus berlaku untuk reaktor terse¬but. Biasanya bahan-bahan yang disebut tidak pasti mempunyai sifat fisika dan mekanika yang baik pula. Oleh karena itu untuk menambah kekuatan konstruksi reaktor diperlukan bahan-bahan lain yang biasanya, dilihat dari sudut ekonomi neutron, merugikan, akan tetapi diperlukan juga, agar komponen komponen tetap utuh dalam disainnya yang semula.

Untuk bahan struktur dalam bejana reaktor berlaku syarat-syarat berikut:

1). Mempunyai penyerapan neutron yang rendah.

2). Stabil dalam lingkungan radiasi dan suhu tinggi.

3). Mempunyai kekuatan mekanik yang baik.

4). Tahan korosi.

5). Mempunyai sifat perpindahan kalor yang baik.

Sebagai bahan struktur dalam bejana reaktor biasanya dipergunakan besi-baja, aluminium, zirkonium, nikkel, pada umumnya dalam bentuk paduan logam.

Catatan

1. Bahan bakar

Terdapat dalam teras reaktor diatur sedemikian rupa hingga luas per¬mukaannya cukup besar untuk memperbesar perpindahan kalor yang dihasilkan oleh bahan bakar.

2. Pendingin (primer)

Cairan/gas yang mempunyai sifat-sifat perpindahan kalor yang baik, berfungsi untuk mendinginkan bahan bakar. Kadang-kadang pendingin primer berfungsi pula sebagai moderator.

3. Moderator

Berfungsi untuk menurunkan energi neutron dari energi tinggi ke ter maik. Moderator harus mempunyai sifat-sifat kemampuan menghamburkan neutron besar, tetapi kemampuan penyerapannya kecil. Seperti yang akan diterangkan kemudian moderator dipilih dari unsur-unsur yang mempunyai A kecil agar penurunan energi per tumbukan dapat besar.

4. Batang kendali

Terbuat dari bahan yang mempunyai serap neutron yang sangat besar berfungsi untuk mengendalikan jumlah populasi neutron yang terdapat di dalam reaktor, jadi juga mengendalikan jumlah reaksi fisi yang terjadi.

5. Perisai (shielding)

Menahan radiasi yang dikeluarkan oleh inti-inti hasil fisi, agar para pekerja dapat melakukan tugas-tugasnya di sekitar reaktor dengan aman.

6. Pemindah kalor (heat exchanger)

Pendingin primer biasanya merupakan suatu rangkaian tertutup, artinya pendingin primer dikembalikan lagi oleh pompa ke reaktor setelah kalor yang dibawa dari reaktor dipindahkan ke pendingin sekunder di dalam alat penukar kalor.

  1. Jenis jenis reaktor nuklir

Berdasarkan fungsinya reaktor nuklir dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

  1. Reaktor penelitian / riset, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk tujuan penelitian, pengujian bahan, pendidikan / pelatihan dan bisa digunakan juga untuk memproduksi radioisotop. Pada reaktor penelitian, yang diutamakan adalah pemanfaatan radiasi neutron yang dihasilkan dari reaksi nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan kalor yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Pengambilan kalor pada reaktor dilakukan dengan sistem pendingin yang terdiri dari sistem pendingin primer dan sistem pendingin sekunder. Kalor yang berasal dari teras reaktor dibawa ke sistem pendingin primer kemudian dilewatkan melalui alat penukar kalor dan selanjutnya kalor dibuang ke lingkungan melalui sistem pendingin sekunder. Perlu diketahui bahwa pada alat penukar kalor sistem pendingin primer dan sistem pendingin sekunder tidak terjadi kontak langsung antara uap/air yang mengandung radiasi dengan air pendingin yang dibuang ke lingkungan.
  2. Reaktor daya, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk menghasilkan daya listrik / pembangkit tenaga listrik. Ada perbedaan antara kedua reaktor ini, yaitu pada reaktor penelitian yang diutamakan adalah pemanfaatan yang dihasilkan dari reaksi nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan panas yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Pada raktor daya yang dimanfaatkan adalah uap panas bersuhu dan bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh reaksi fisi untuk memutar turbin, sedangkan neutron cepat dihasilkan diubah menjadi neutron lambat untuk berlangsungnya reaksi berantai dan sebagian lagi tidak dimanfaatkan. Reaksi fisi berantai hanya terjadi apabila neutron termal/lambat mampu menembak Uranium-235 yang lainnya hingga terjadilah reaksi berantai secara terus menerus. Cara mengubah neutron yang berkecepatan tinggi menjadi neutron berkecepatan rendah (neutron lambat) adalah dengan menumbukkannya pada inti atom hidrogen dalam air. Jadi air di dalam kolam reaktor ini berfungsi sebagai pemerlambat (moderator), sebagai pendingin dan juga sebagai perisai radiasi. Beberapa bahan pada umumnya yang dipergunakan sebagai bahan pendingin reaktor nuklir adalah air ringan (H2O), air berat (D2O), gas dan grafit.

      Berdasarkan bahan pendingin yang digunakan menjadi 2 yaitu:

  1. Reaktor berpendingin air, meliputi reaktor jenis PWR (Pressurized Water Reactor = reaktor air tekan), BWR (Boiling Water Reactor = reaktor air didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water Reactor = reaktor air didih moderasi grafit), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = reaktor air berat tekan).
  2. Reaktor berpendingin gas, gas yang biasa digunakan adalah CO2 dan N2. Reaktor yang termasuk dalam jenis ini adalah MR (Magnox Reactor = reaktor magnox) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = reaktor maju berpendingin gas).

Berdasarkan bahan moderator (pemerlambat) yang digunakan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

  1. Reaktor air ringan : bahan moderasi yang digunakan adalah air ringan. Reaktor dalam kelompok ini adalah : PWR, BWR, BMBWR.
  2. Reaktor air berat : bahan moderasi yang digunakan adalah air berat (air yang mempunyai kandungan Deuterium lebih besar daripada air ringan). Reaktor dalam kelompok ini adalah : PHWR dan Reaktor Candu (Canadium-Deuterium-Uranium).
  3. Reaktor grafit : bahan moderasi yang digunakan adalah grafit. Reaktor dalam kelompok ini adalah : MR, AGR, dan RBMR (reaktor yang digunakan oleh Rusia).
  4. Penyebab terjadinya reaktor nuklir

Pada reaktor nuklir, energi dihasilkan dari reaksi fisi atau pembelahan inti atom.” Reaksi fisi juga menghasilkan energi radioaktf yang akan meluruh. Jumlah energi yang dihasilkan dari suatu reaksi fisi adalah total dari energi fisi dan energi peluruhan radioaktif. Besar kecilnya energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi tergantung dari banyak sedikitnya proses fisi. Reaksi fisi bisa dikendalikan dengan batang kendali atau control rods. Jika seluruh batang kendali dimasukkan, maka reaktor akan padam, dikenal dengan istilah shut down.Pengamanan reaktor nuklir mengenal jargon 3C, yakni Control, Cool dan Contain. Control terkait upaya mencegah peningkatan tajam energi, Cool terkait dengan upaya mendinginkan bahan bakar, dan Contain berkaitan dengan upaya menjaga bahan radioaktif agar tetap dalam reaktor. “Perlu diingat bahwa ketiganya bisa berfungsi sebagai aspek pertahanan,” katanya. Kalau kontrol tak berfungsi, maka masih ada sistem pendingin. Kemudian, jika sistem pendingin tak juga berfungsi, maka masih terdapat pengungkung reaktor yang akan mencegah lepasnya materail radioaktif, ledakan di reaktor Fukushima 1 berhubungan dengan kegagalan pada sistem proteksi dan faktor yang berkaitan dengannya.

Ketika gempa terjadi, sistem kontrol sebenarnya berhasil berfungsi dengan memadamkan reaktor sehingga reaksi fisi di dalam reaktor tak terjadi lagi.”Akan tetapi, masih ada energi dari peluruhan radioaktif. Pada saat reaktor padam, masih ada 7 persen dari 1.553 MW, atau sebesar 107 MW,” ungkapnya. Dalam kondisi tersebut, sistem pendingin seharusnya bekerja untuk mengalirkan air saat awal sistem tersebut berfungsi.Sayangnya, sistem pendingin akhirnya ngadat setelah satu jam sebab generator listrik mati akibat tsunami. “Situasi tersebut dikenal dengan istilah LOFA (loss of flow accident), yakni pendingin tetap ada, namun tidak mengalir,” papar Alex. Akibatnya panas tak bisa ditransfer.Menurut Alex, ada dua fenomena yang bisa terjadi. Pertama, naiknya suhu pendingin memicu pendidihan sehingga bagian atas reaktor tertutup uap air. “Jika ini terjadi, kemungkinan pelelehan bahan bakar besar. Jika bahan bakar meleleh, bahan radioaktif akan terlepas ke sistem pendingin,” jelas Alex.

Kemungkinan kedua adalah kenaikan suhu selongsong bahan bakar. Selongsong merupakan pembungkus bahan bakar yang terbuat dari logam campuran Zirkonium. Jika suhu meningkat hingga 900 derajat celsius, maka zirkonium akan teroksidasi oleh air sehingga menghasilkan hidrogen. Alexander mengungkapkan, hingga saat ini belum jelas fenomena apakah yang terjadi. Namun, ia menduga bahwa hidrogen yang terakumulasi bereaksi dengan oksigen sehingga terjadi ledakan hidrogen. Hal tersebut menyebabkan ledakan di Fukushima 1 Unit 1. Kekuatan ledakan cukup kuat untuk meruntuhkan bangunan di sekitarnya, namun tidak sampai merusak selongsong pelindung reaktor. Faktanya, ledakan terjadi di reaktor-reaktor tersebut setelah TEPCO (Tokyo Power Electric Company) mengalirkan air laut untuk mendinginkan reaktor secara langsung. Terjadinya ledakan juga disebut bagian dari proses pendinginan reaktor yang tidak membahayakan reaktor tersebut.

Kebocoran radioaktif dengan jumlah besar terjadi sehingga berdampak luas pada kesehatan dan lingkungan. Karena itu butuh respons dan tindakan jangka panjang. Dialami oleh PLTN Chernobyl, Ukraina, pada 1986. Kala itu reaktor nomor empat meledak. Akibatnya terjadilah kebakaran dan bocornya radioaktif dalam jumlah besar. Lingkungan dan masyarakat terpapar radiasi ini. Uap radioaktif itu mengandung yodium 131, cesium 137 dan xenon yang volumenya 100 kali bom atom Hiroshima. Uap radioaktif menyebar ke Uni Soviet, Eropa Timur, Eropa Barat dan Eropa Utara. Sebagian besar warga di Ukraina, Belarusia dan Rusia diungsikan. Kala itu lebih dari 336.000 orang mengungsi.

Pada 32 tahun yang lalu, Amerika Serikat (AS) dilanda kecelakaan reaktor nuklir terbesar dalam sejarah negara itu. Salah satu reaktor pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Three Mile Island mengelami kerusakan sehingga mengalami kebocoran radioaktif.Menurut stasiun televisi History Channel, peristiwa itu berlangsung pada dini hari ketika katup tekanan di reaktor Unit-2 gagal berfungsi. Ini mengakibatkan radiasi pada fasilitas pendingin dan air yang sudah tercemar itu mengalir ke gedung-gedung di sebelahnya. Komponen inti pada reaktor nuklir terancam meleleh sehingga mengakibatkan radiasi skala besar. PLTN itu dibangun pada 1974 di pinggir sungai Susquehanna, negara bagian Pennsylvania, dan baru beroperasi pada 1978. Namun, setahun kemudian, PLTN mengalami kebocoran. Tidak mau berisiko timbulnya korban jiwa, Gubernur Pennsylvania saat itu, Dick Thornburgh, langsung memerintahkan evakuasi. Dalam beberapa hari berikut, lebih dari seratus ribu orang yang berada di sekitar PLTN Three Mile Island mengungsi ke tempat yang jauh. Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, sampai turun tangan mengatasi bocornya radioaktif di PLTN Three Mile Island. Beruntung, reaktor yang rusak itu tidak meledak dan komponen inti tidak sampai meleleh. Situasi pun terkendali dan radiasi tidak sampai menyebar luas.Namun, sejak saat itu, kepercayaan publik AS atas keamanan PLTN merosot drastis. Reaktor yang rusak itu tidak digunakan lagi.

  1. Manfaat Tenaga Nuklir

Sesudah perang dunia ke-2 selesai, gagasan untuk memanfaatkan tenaga nuklir guna maksud-maksud damai mulai berkembang. Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang pertama di Amerika Serikat mulai bekerja bulan Desember 1957 di Shippingport, Pennsylvania. Sejak itu, berpuluh-puluh PLTN lain mulai dibangun dan mulai membangkitkan tenaga listrik untuk maksud-maksud damai. Dalam akhir tahun 1960-an, mulai dibangun PLTN yang berukuran besar dan mampu membangkitkan tenaga listrik secara ekonomis. Sejak tahun 1967, pesanan-pesanan PLTN mulai melonjak tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain di seluruh dunia.

Dibandingkan dengan Pusat Listrik Tenaga Batu-bara, Pusat Listrik Tenaga Nuklir mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

  1. tidak mencemarkan udara
  2. menghasilkan bahan-bahan sisa padat lebih sedikit
  3. cadangan sumber bahan bakar nuklir melimpah
  4. penyediaan bahan bakarnya memerlukan penambangan yang lebih sedikit
  5. lebih ekonomis
  6. persoalan pangangkutan bahan bakar lebih mudah
  7. pemilihan letak lebih luwes.

    Sebaliknya, PLTN mempunyai beberapa kekurangan antara lain sebagai ber¬ikut:

  8. Menghasilkan bahan sisa radioaktif yang berumur sangat panjang sehingga harus disimpan dan diamankan untuk jangka waktu yang sangat lama.
  9. Dapat melepaskan bahan-bahan radioaktif. Perlu ditambahkan bahwa pelepasannya adalah sedemikian rendahnya sehingga tidak begitu berarti apabila dibandingkan dengan latar belakang radiasi yang sudah ada dalam alam. Pelepasan bahan-bahan radioaktif dari suatu Pusat Listrik Tenaga Batu-bara yang berasal dari radio-aktivitas alam dalam batu bara dapat melebihi pelepasan radioaktif dari Pusat Listrik Tenaga Nuk!ir.
  10. Dalam PLTN terdapat himpunan bahan-bahan radioaktif dalam jumlah amat besar yang harus dikungkung, dalam keadaan bagaimanapun juga. Oleh karena itu, segi-segi keselamatan yang bersangkutan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat lebih berat dibandingkan dengan PLT-Batu bara.
  11. Modal yang diperlukan untuk pembangunan PLTN lebih besar dan waktu pembangunannya lebih lama dibandingkan dengan PLT-Batubara.

    JENIS-JENIS PLTN

Sebagian besar dari PLTN yang dipakai dewasa ini adalah dari jenis reaktor berpendingin air ringan (LWR = Light Water Reactor) baik yang berasal dari reaktor sistem bertekanan (PWR = Pressurized Water Reactor) maupun dari reaktor sistem mendidih (BWR = Boiling Water Reactor). Kedua jenis sistem LWR ini merupakan hasil dari program penelitian dan pengembangan di Amerika Serikat yang kemudian diikuti oleh banyak negara lain seperti Jerman, Perancis, Rusia, Jepang dan lainnya.

Di samping LWR, juga dikembangkan jenis reaktor berpendingin air berat (HWR = Heavy Water Reactor) terutama di Kanada dan diikuti oleh banyak negara berkembang. Jenis reaktor lainnya adalah reaktor berpendingin gas dengan moderator grafitt (GCR = Gas Cooled, graphite moderated Reactor) yang mula-mula dikembangkan di Inggris dan Perancis tetapi kemudian ternyata tidak diteruskan pengembangannya. Jenis-jenis yang sampai saat ini masih dalam taraf pengembangan, yaitu jenis reaktor suhu tinggi (HTGR = High Temperatur Gas-cooled Reactor) dan jenis reaktor pembiak cepat (FBR = Fast Breeder Reactor). Jenis HTGR diharapkan dapat lebih memanfaatkan sumber bahan bakar nuklir termasuk torium dan di samping sebagai pembangkit tenaga listrik yang mempunyai kemampuan untuk dipakai sebagai sumber kalor proses. Jenis FBR baik yang menggunakan pendingin natrium cair (LMFBR= Liquid Meta Fast Breeder Reactor) maupun yang menggunakan pendingin gas (GCFBR = Gas-Cooled, Fast Breede Reactor) diharapkan akan dapat mendaya-gunakan sepenuhnya sumber-sumber bahan bakar nuklir yang sudah jelas terbatas cadangannya di dunia.

Sifat-sifat khas PLTN jenis PWR dan BWR adalah sebagai berikut:

  1. Keduanya menggunakan bahan bakar yang sedikit diperkaya (kurang dari 3% U235)
  2. Keduanya memberikan perbandingan konversi yang rendah
  3. Segi-segi ekonomi dan keselamatan, effisiensi termik dan kemampuan mendayagunakan sumber bahan bakar uranium kurang lebih sebanding.

PLTN jenis HTGR dikembangkan terutama di Jerman, Inggris dan Amerika Serikat. Diagram alir HTGR dilukiskan dalam Gambar 4. Pemakaian jenis PLTN ini diharapkan dapat menghemat persediaan sumber uranium sampai pada saat program reaktor cepat pembiak dapat dilaksanakan. PLTN jenis reaktor pembiak cepat masih dikembangkan dengan giat di beberapa negara besar. Dorongan untuk mengembangkan reaktor jenis ini terutama ialah:

  1. Untuk memanfaatkan bahan bakar plutonium yang dihasilkan dalam program PLTN jenis LWR.
  2. Untuk menghemat sumber-sumber uranium
  3. Untuk membangkitkan tenaga listrik dengan biaya murah
  4. Untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi pengaruh terhadap lingkungan.

Karena kemampuan pembiakannya, introduksi PLTN jenis ini dalam program ketenagaan nuklir di seluruh dunia diharapkan dapat mengatasi persoalan kebutuhan/keterbatasan sumber-sumber bahan nuklir, persoalan mana mau tidak mau harus dihadapi apabila program pembangkitan tenaga listrik nuklir di laksanakan hanya dengan PLTN jenis LWR saja.

  1. Reaktor Air Didih (BWR)

Pada saat ini, diantara PLTN jenis “boiling water reactor” yang paling banyak jumlahnya, baik yang sudah beroperasi, sedang dalam taraf pembangunan. Disainnya telah mengalami berbagai perubahan pokok dari disain pertama pada tahun 1955, sampai desain terkini yang disebut ABWR. Kalor yang dihasilkan oleh reaksi pembelahan inti didalam teras reaktor (core) digunakan untuk mendidihkan air. Uap yang terjadi, setelah dipisahkan dari butir-butir air oleh separator dan pengering (separators & ryers) keluar dari bejana reaktor (reactor vessel) menuju turbin turbine). Turbin ini terdiri dari dua tingkat yaitu bagian tekanan tinggi (high pressure = HP) dan dua paralel bagian tekanan rendah (low pressure= LP), dimana uap sebelum masuk ke bagian tekanan dipisahkan dari butir-butir air serta dikalor kan kembali dalam separator dan pemanas ulang (moisture separator & reheater). Turbin ini memutar generator listrik (generator) sehingga listrik tiga fase dapat dihasilkan. Sebagian besar uap dari turbin mengalir ke kondenser (condenser) dimana uap ini akan berkondensasi menjadi air lagi. Ini dimungkinkan karena kondenser selalu didinginkan oleh air dari luar, yaitu dengan air laut. dengan air sungai ataupun dengan air dari menara/kolam pendingin. Selanjutnya air kondensat dialirkan ke penyaring demineral (de¬mineralizer) oleh pompa kondensat (condensate pump). Dari sini, air yang telah bersih dari mineral pengotor dimasukkan kedalam pemanas (heaters) dimana air secara bertahap dipanaskan.

Semua pemanas dan pemanas ulang mendapat kalor dari uap yang di. ambil dari turbin tekanan tinggi. Kemudian pompa umpan (feed pump) memompa air hingga bertekanan tinggi, mengalirkan lewat pemanas tekanan tinggi. (HP heaters) dan memberikannya kembali ke bejana reaktor. Untuk mengintensifkan pendidihan dan juga pengaturan daya maka aliran didalam teras dibantu dengan sitem resirkulasi, yang dilaksanakan aengan mengambil air (sepertiga dari debit air umpan) dari bejana dengan pompa resirkulasi (racirculation pump) dan menyemprotkan kembali kedalam bejana dengan nozel. Kecepatan tinggi aliran dari nozel ini mengikutkan air pada tepi bejana, sehingga aliran pendingin lewat teras mencapai debit yang diperlukan. Reaktor jenis BWR menggunakan bahan bakar uranium dalam bentuk kimia U02 (uranium dioxida). Perkayaan isotop U-235 pada uranium bisa bermacam-macam, berkisar antara 1,6% berat s/d 2,8 % berat. Uranium dioxida digunakan dalam bentuk pil (pellet) yang dipres dari serbuk U02 dan disinter supaya memperoleh massa jenis tertinggi. Pil-pil ini disusun di dalam tabung yang terbuat dari bahan zircaloy-2, dengan tutup rapat di kedua ujungnya, yang akan merupakan batang bahan bakar. Dalam batang bahan bakar ini udara didalamnya diganti dengan gas helium yang bertekanan sekitar satu atmosfir. Disamping itu pada tabung bahan bakar, di atas pil U02 yang paling atas tersedia ruangan dan per yang selalu menekan pil-pil berimpitan satu sama lain. Ruangan di ujung atas ini disediakan untuk gas-gas hasil fisi yang nantinya terbebaskan. Diameter luar tabung 12,5 mm, tebal tabung 0,86 mm panjang susunan pil 3759 mm. Sedang ruang gas setinggi 305 mm. Bahan penyerap neutron untuk batang kendali adalah borium dalam bentuk karbida boron B4C. Karbida ini dipres didalam tabung baja tahan karat berdiameter 4,8 mm, dilas rapat pada kedua ujungnya. Dalam bekerjanya, batang kendali disisipkan dari bawah teras ke atas. Batang kendali ini dihubungkan kebawah oleh batang penerus sampai kebawah alas bejana reaktor, dimana terdapat piston hidrolik sebagai penggerak. Batang kendali dapat digerakkan kontinyu dengan kecepatan tertentu ke posisi-posisi tetap tertentu pula

  1. Reaktor Air Tekan (PWR)

Reaktor jenis Reaktor Air Tekan atau PWR (pressurized water reactor) ialah jenis yang paling banyak dibandingkan dengan jenis-jenis lainnya, baik bagi PLTN yang telah beroperasi, yang sedang dibangun maupun yang sedang dalam pemesanan. PLTN-PWR bekerja berdasarkan prinsip dua daur, dimana pendingin pada masing-masing daur terpisah satu sama lain. Pendingin yang mendinginkan reaktor pada daur primer terpisah dari uap yang dihasilkan. Daun primer berisi air pendingin yang bertekanan tinggi dan bersuhu tinggi, mengambil kalor yang dihasilkan oleh reaksi fisi didalam teras reaktor. Dari bejana reaktor ari menuju suatu alat penukar kalor , yang disebut generator uap, dimana air ini melalui pipa-pipa berbentuk U. Dengan aliran ini kalor dipindahkan ke darurat sekunder, dimana air umpan dididihkan dan uap dihasilkan dari dalam generator uap ini. Air dari daur primer dipompa kembali kedalam bejana reaktor oleh pompa primer. Alat pembuat tekanan, pressurizer, mempertahankan tekanan daur primer tetap sekitar 158 atmosfer.Uap yang dihasilkan oleh generator uap dialirkan ke turbin, memutarnya dan memutar generator. Hasil putaran generator ini menghasilkan listrik yang merupakan produk akhir PLTN. Uap itu selanjutnya berkondensasi didalam kondenser, sedang air kondensat tersebut diumpankan kembali ke generator uap. Uranium dengan perkayaan sekitar tiga persen digunakan sebagai bahan bakar dalam bentuk persenyawaan uranium dioksida. Serbuk U02 ini dikompakkan menjadi bentuk pil dengan melalui proses”cold pressing” dan “sintering” untuk memperoleh massa jenis yang mendekati harga teori. Pil-pil ini disusun secara aksial didalam tabung dari logam zircaloy-4 yang dilas rapat pada kedua tutup ujungnya, membentuk sebuah batang bahan bakar. Aloi zirkonium ini digunakan untuk kelongsong bahan bakar, karena serapan terhadap neutron kecil tetapi mempunyai sifat penghantaran kalor yang baik. Batang bahan bakar ini diberi tekanan gas helium untuk mengurangi besarnya tegangan/regangan yang akan dialami pada operasinya didalam reaktor. Perangkat kendali berbentuk yang berfungsi sebagai penyerap neutron adalah kadmium (Cd). Disaat bekerja perangkat digerakkan oleh batang penggerak yang disambung keatas, sedang penggeraknya dipasang diatas tutup bejana reaktor. Dibandingkan dengan perangkat bahan bakar BWR, maka pada PWR pe¬rangkat bahan bakar tidak berselubung. Batang kendali bukannya berpenampang palang yang tersisip dari bawah diantara perangkat, tetapi dari atas sedang batang-batang kendalinya menusuk kedalam perangkat bahan bakar sepanjang tabung-tabung pengarah. Oleh karena itu perangkat ini disebut perangkat bahan bakar-kontrol (rod cluster control assembly) perangkat kendali digerakkan oleh penggerak magnetik, sedang pada BWR digerakkan dengan cara hidrolik.Reaktor didinginkan oleh air bertekanan tinggi yang bersirkulasi membentuk sistem tertutup, disebut sistem primer. Tekanan tinggi ini diperlukan agar dalam pemindahan kalor dari teras reaktor air tersebut tidak mendidih. Alat pembuat tekanan dan menjaga agar tetap tinggi disebut pressurizer. Alat ini bekerja berdasarkan sifat bahwa air yang dijaga dalam keseimbangan dengan uap air pada suatu suhu tertentu akan bertekanan tertentu pula. Jadi didalam pressurizer terdapat air dan uap yang diusahakan dalam keseimbangan, yaitu tinggi permuka air tertentu. Selanjutnya suhu diusahakan tertentu pula, pemanasan air akan bekerja bila air kurang panas, serta dengan semportan air dingin pada uapnya bila terlalu panas. Dalam bekerjanya 60% ruangan terisi air, 40% terisi uap. Berbeda dengan BWR, PWR membutuhkan pembangkit uap. Pembangkit uap sebenarnya adalah suatu alat penukar kalor (heat exchanger), dimana pendingin yang kedua mendidih jika menerima kalor, sehingga keluar sebagai uap. Pembangkit uap berbentuk silinder vertikal, dimana pendingin primer yang bertekanan tinggi mengalir lewat pipa-pipa U. Pendingin primer masuk dari ruang masuk ujung bawah, kemudian terbagi dalam aliran lewat pipa-pipa U dan keluar melalui ruang keluar di ujung bawah. Ruang keluar dan masuk ini dipisahkan olen suatu dinding. Air sekunder masuk pada bagian bawah, pada bagian mana pipa-pipa pindah kalor bersuhu terendah. Bagian ini disebut bagian preheater, dimana air sekunder dikalor kan sampai hampir suhu didihnya. Selanjutnya air mengalir ke bagian lain, di mana air mendidih. Uap air bercampur butiran air yang terbebas keluar permukaan air masuk ke moisture separator, dimana karena aliran yang memutar di dalamnya menyebabkan butiran air terlemparkan kepinggiran dan turun lagi ke permukaan air. Selanjutnya uap dikeringkan lagi pada waktu melewati steam dryer, dimana aliran yang zig-zag menggugurkan butiran air yang masih terikut, untuk seterusnva keluar lewat steam nozzle di ujung atas Bangunan unit PLTN terdiri dari 4 gedung pokok yaitu gedung sungkup reaktor (containmen-building) (1). Gedung turbo-generator (2), gedung penanganan bahan bakar (3) dan gedung peralatan pembantu (4). Gedung sungkup ini melingkupi seluruh daur primer bejana reaktor uap, generator uap, dan pompa-pompa primer, gedung ini diperhitungkan untuk menahan radiasi dan akibat-akibat suatu kejadian musibah kehilangan pendingin (loss of coolant accident). Gedung turbo-generator gedung biasanya merupakan yang terbesar diantara gedung- gedung yang ada. Turbo generator, pemisah lengas (moisture separator) dan preheater terletak di lantai atas gedung tersebut. Untuk menghindari vibrasi tersebut ke seluruh bangunan, maka turbo-generator biasanya terpasang pada penyangga tersendiri terpisah dari fondasi gedung.Gedung penanganan bahan bakar berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan bakar baik yang baru maupun yang telah terpakai. Bahan bakar terpakai di simpan dibawah permukaan air untuk menahan radiasi yang dipancarkan dan mendinginkan kalor peluruhan. Disini juga terdapat peralatan untuk memasukkan bahan bakar bekas kedalam kotak pengiriman (shippng cask). Gedung ini dihubungkan ke gedung sungkup oleh suatu kolong tranfer dengan sistem transfer secara mekanik.Gedung peralatan pembantu berisikan sistem-sistem pembantu dan pengaman. Pipa-pipa dan kabel-kabel memasuki gedung sungkup reaktor lewat gedung ini melalui suatu penetrasi yang kedap air. suatu penetraReaktor PWR dan BWR juga dilengkapi dengan sistem pendingin teras darurat. Sistem ini yang biasanya disebut ECCS (Emergency Core Cooling System) atau SIS (Safety Injection System) dimaksudkan untuk menyediakan air pendingin teras reaktor pada keadaan musibah kebocoran besar (LOCA, loss of cooling accident). Kalor yang dihasilkan oleh peluruhan hasil fisi didalam teras harus dipindahkan oleh sistem ini, agar batang bahan bakar tidak terlalu tinggi suhunya sehingga terjaga keutuhannya.

  1. PHWR—CANDU

Jenis reaktor ini sudah mirip dengan PWR, dalam pengertian bahwa memiliki pemisahan antara daur air pendingin primer yang mendinginkan teras reaktor dan daur sekunder yang berhubungan dengan turbo-generator dan kondenser. Pada PHWR—CANDU (Pressurized Heavy-Water Reactor – Canadian Deuterium Uranium) air berat (D2O) digunakan dalam daur primer sebagai ganti air ringan (H2O). Hal ini memungkinkan digunakannya uranium-alam sebagai ganti uranium-kaya pada PWR. Keistimewaan selanjutnya adalah adanya pemisahan D2O menurut fungsinya. Pertama sebagai pendingin D2O mengalir melalui teras reaktor dalam pipa-tekan yang berisi tekanan bahan bakar. Kedua, D2O mengisi diantara pipa tekan didalam suatu tanki (calandria) yang berfungsi sebagai moderator. Khususnya mengenai PHWR-CANDU, teras reaktor memiliki susunan pipa tekan yang mendatar, tanpa dump tank dibawah calandri.Air berat yang digerakkan pompa primer mengalir me¬nuju reaktor. Pada pipa pembagi aliran terbagi mengikuti pipa-pipa tekan masuk ke teras reaktor. Pada bagian ini pipa-pipa tekan berisi sederet¬an bundel batang bahan bakar dari mana kalor dihasilkan. Keluar dari teras reaktor kemudian aliran disatukan lagi dan masuk generator uap (steam generator). Disini D2O mengalihkan kalornya ke pendingin air dan mengubah¬nya menjadi uap, sedang D2O yang lebih dingin keluar dari boiler untuk dipompa dan mengambil kalor dari teras reaktor lagi. Tidak semua kalor yang dihasilkan dari bahan bakar bisa dipindahkan oleh D2O pendingin dan dipindahkan di boiler. Disamping kalor yang bocor keluar lewat perisai sebagai kalor tidak termanfaatkan karena terbuang ke D2O moderator, dalam calandria. Jumlah yang dipindahkan lewat sistem moderator sekitar 6% dari kalor yang terpindahkan ke boiler. Uranium dioxida tersinter bebentuk pil-pil panjang 16 mn disusun dalam pipa zircalloy-4, membentuk elemen bahan bakar, Diameter luar elemen 13,08 mm dan tebal zircalloy adalah 0,38 mm. Setiap 37 elemen bahan bakar disusun menjadi satu bundel yang akan merupakan satu bundel panjang 495 mm, dengan ukuran luar berdiameter 102,4 mm. Setiap duabelas bundel tersusun horizontal dalam pipa tekan zircalloy yang berukuran diameter103,4 mm. Tabel pipa tekan 4,16 mm. Bagian ujung pipa tekan diberi end-fitting, yang terbuat dari baja takkarat 403, untuk aliran masuk atau keluar dan juga untuk penyambungannya dengan mesin pengganti bahan bakar. Pipa-pipa tekan ini terletak dalam pipa calandria yang sedikit lebih besar. Sedang pipa calandria dalam susunan kisi persegi merupakan bagian dari calandria. Kalau pipa calandria terbuat dari zircalloy-2, maka dinding silinder dan lembarannya terbuat dari baja takkarat 304L Dengan cara ini 380 pipa tekan yang berisi bahan bakar dan air berat pendingin ditambah dengan ca¬landria yang berisi air berat moderator. Calandria ini berbentuk silinder mendatar dengan diameter dalam 7,6 m dan panjang 5,94 m.

  1. Dampak kebocoran reaktor nuklir bagi manusia dan lingkungan
  2.       Dampak kebocoran reaktor nuklir bagi manusia

Kebocoran nuklir terjadi ketika sistem pembangkit tenaga nuklir atau kegagalan komponen menyebabkan inti reaktor tidak dapat dikontrol dan didinginkan sehingga bahan bakar nuklir yang dilindungi – yang berisi uranium atau plutonium dan produk fisi radioaktif – mulai memanas dan bocor. Sebuah kebocoran dianggap sangat serius karena kemungkinan bahwa kontainmen reaktor mulai gagal, melepaskan elemen radioaktif dan beracun ke atmosfer dan lingkungan. Dari sudut pandang pembangunan, sebuah kebocoran dapat menyebabkan kerusakan parah terhadap reaktor, dan kemungkinan kehancuran total.

Beberapa kebocoran nuklir telah terjadi, dari kerusakan inti hingga kehancuran total terhadap inti reaktor. Dalam beberapa kasus hal ini membutuhkan perbaikan besar atau penutupan reaktor nuklir. Sebuah ledakan nuklir bukanlah hasil dari kebocoran nuklir karena, menurut desain, geometri dan komposisi inti reaktor tidak membolehkan kondisi khusus memungkinkan untuk ledakan nuklir. Tetapi, kondisi yang menyebabkan kebocoran dapat menyebabkan ledakan non-nuklir. Contohnya, beberapa kecelakaan tenaga listrik dapat menyebabkan pendinginan bertekanan tinggi, menyebabkan ledakan uap.

Kebocoran nuklir adalah dampak yang paling ditakutkan di balik manfaaat energi nuklir bagi manusia. Dalam catatan sejarah manusia terdapat kejadian kecelakan nuklir terbesar di dunia di antaranya adalah kecelakaan Chernobyl, Three Mile Island Amerika dan mungkin di Fukushima Jepang.

Diantaranya dampak dari kebocoran reaktor nuklir adalah :

  1. Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual muntah, diare, sakit kepala dan demam.
  1. Sedangkan dampak jangka menengah atau beberapa hari setelah paparan adalah pusing, mata berkunang-kunang. Disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu, muntah darah atau berak darah, kerontokan rambut dan kebotakan, tekanan darah rendah , gangguan pembuluh darah dan luka susah sembuh.
  2. Dampak jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahu(seperti yang sudah terjadi di Ukraina).
  3. Beberapa dampak kesehatan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain Kanker terutama kanker kelenjar gondok, mutasi genetik, penuaan dini dan gangguan sistem saraf dan reproduksi.

Dampak kebocoran reaktor nuklir secara spesifik terhadap manusia :

  1. RAMBUT – Rambut akan menghilang dengan cepat, bila terkena radiasi di 200 Rems atau lebih. Rems merupakan satuan dari kekuatan radioaktif.
  2. OTAK – sel-sel otak tidak akan rusak secara langsung kecuali terkena radiasi berkekuatan 5000 Rems atau lebih. Seperti halnya jantung, radiasi membunuh sel-sel saraf dan pembuluh darah dan dapat menyebabkan kejang dan kematian mendadak.
  3. KELENJAR GONDOK – Kelenjar tiroid sangat rentan terhadap yodium radioaktif. Dalam jumlah tertentu, yodium radioaktif dapat menghancurkan sebagian atau seluruh bagian tiroid.
  4. SISTIM PEREDARAN DARAH – Ketika terkena radiasi sekitar 100 Rems, jumlah limfosit darah akan berkurang, sehingga korban lebih rentan terhadap infeksi. Gejala awal ialah seperti penyakit flu.
  5. JANTUNG – Bila terkena radiasi berkekuatan 1000 sampai 5000 Rems mengakibatkan kerusakan langsung pembuluh darah dan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak.
  6. SALURAN PENCERNAAN – Radiasi dengan kekuatan 200 rems akan menyebabkan kerusakan pada lapisan saluran usus dan dapat menyebabkan mual, muntah dan diare berdarah.
  7. SALURAN REPRODUKSI – Saluran reproduksi akan merusak saluran reproduksi cukup dengan kekuatan di bawah 200 Rems. Dalam jangka panjang, korban radiasi akan mengalami kemandulan.
    1.       Dampak kebocoran reaktor nuklir terhadap lingkungan

Tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, dampak lainnya terhadap lingkungan diantaranya akan terjadi hujan asam dimana melalui ini akan menyebarkan radiasinya, disamping itu tumbuhan dan hewan juga akan mati khususnya di daerah yang radius terkena pencemarannya. Mengingat bahaya yang ditimbulkan dari kebocoran tersebut kita harus mengantisipasi beberapa pencegahan yang diusahakan agar tidak menyebarkan radiasi reaktor nuklir.

SUMBER RUJUKAN:

http://cinta-bangsasendiri.blogspot.com/2010/08/makalah-reaktor-nuklir.html

selvibinambuni.blogspot.com

Iklan