PIAGET DAN TEORINYA

PIAGET DAN TEORINYA

A. TIGA ASPEK PERKEMBANGAN INTELEKTUAL

    Dalam perkembangan intelektual ada tiga aspek yang diteliti oleh Piaget, yaitu struktur, isi (content) dan fungsi.

1. Struktur

    Untuk sampai pada pengertian struktur diperlukan struktur pengertian yang erat hubungannya dengan struktur, yaitu pengertian operasi. Piaget berpendapat, bahwa ada hubungan fungsional antara tindakan fisik dan tindakan mental dan perkembang berpikir logis anak-anak. Tindakan-tindakan (action) menuju pada perkembangan operasi-operasi, dan operasi-operasi selanjutnya menuju pada perkembangan sturktur-struktur.

    Operasi-operasi mempunyai empat ciri-ciri. Pertama, operasi-operasi merupakan tindakan-tindakan yang terinternalisasi; ini berarti tindakan-tindakan itu baik merupakan tindakan mental maupun tindakan fisik, tanpa ada garis pemisah antara kedua tindakan itu. Kedua, operasi-operasi itu oversibel. Misalnya, menambah dan mengurangi merupakan operasi yang sama yang dilakukan dengan arah yang berlawanan : 2 dapat ditambahkan pada 1 untuk memperoleh 3 atau 1 dapat dikurangi dari 3 untuk memperoleh 2. Ketiga, operasi-operasi itu selalu tetap, walaupun selalu terjadi transformasi atau perubahan. Ciri yang keempat ialah tidak ada operasi yang berdiri sendiri.

    Suatu operasi selalu berhubungan dengan struktur atau sekumpulan operasi. Misalnya operasi penambahan-pengurangan berhubungan dengan operasi-operasi klasifikasi, pengurutan, dan konservasi bilangan. Operasi-operasi itu saling membutuhkan. Jadi, operasi-operasi itu adalah tindakan-tindakan mental yang terinternalisasi, reversibel, tetap dan terintegrasi dengan struktur-struktur dan operasi-operasi lainnya. Struktur-struktur yang juga disebut skemata-skemata merupakan organisasi-organisasi mental tingkat tinggi, satu tingkat lebih tinggi dari operasi-operasi.

Menurut Piaget, struktur-struktur intelektual terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Struktur-struktur yang terbentuk lebih memudahkan individu itu menghadapi tuntutan-tuntutan yang makin meningkat dari lingkungannya.

2. Isi

    Aspek kedua yang menjadi perhatian Piaget adalah aspek isi. Yang dimaksudkan dengan isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

    Antara tahun 1920 dan 1930 perhatian Piaget dalam penelitiannya tertuju pada isi pikiran anak, misalnya perubahan dalam kemampuan penalaran semenjak kecil sekali hingga besar, konsepsi anak tentang alam sekitarnya, yaitu pohon-pohon, matahri, bulan, dan konsepsi anak tentang beberapa peristiwa alam, seperti bergeraknya awan dan sungai. Sesudah tahun 1930 perhatian penelitian Piaget lebih dalam. Dari skripsi pikiran-pikiran anak ia beralih pada analisis proses-proses dasar yang melandasi dan menentukan isi itu.

3. Fungsi

    Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan-kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi.

    Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mesistematikkan atau mengorganisasi prose-proses fisik atau proses-proses psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan atau berstruktur-struktur. Fungsi kedua yang melandasi perkembangan intelektual ialah adaptasi. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi pada lingkunagn mereka. Cara adaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan organisme yang lain. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungannya. Dalam proses akomodasi seorang memerlukan modifikasi struktur-sturktur mental yang ada dalam mengadakan respons terhadap tantangan lingkungannya.

B. TINGKAT-TINGKAT PERKEMBANGAN INTELEKTUAL

    Menurut Piaget, setiap individu mengalami tingkat-tingkat perkembangan intelektual sebagai berikut :

    1. Sensori-motor         (0 – 2 tahun)

    2. Pra-operasional         (2 -7 tahun)

    3. Operasional konkrit     (7 – 11 tahun)

    4. Operasi formal         (11 – ke atas)

    Usia yang tertulis di belakang setiap tingkat hanya merupakan suatu aproksimasi. Semua anak melalui semua tingkat, tetapi dengan kecepatan yang berbeda. Jadi, mungkin saja seorang anak yang berumur 6 tahun berada pada tingkat operasional konkrit, sedangkan ada seorang anak yang berumur 8 tahun masih pada tingkat pra_operasional dalam cara berpikir. Tetapi, urutan perkembangan intelektual sama untuk semua anak. Struktur-struktur untuk tingkat sebelumnya terintegrasi dan termasuk sebagai bagian dari tingkat-tingkat berikutnya.

1. Tingkat Sensori-motor

    Tingkat sensori-motori menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama periode ini anak mengatur alamnya dengan indera-indera (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Selama periode ini bayi tidak mempunyai konsepsi “object permanence”.

2. Tingkat Pra-operasional

    Tingkat ini ialah antara umur 2 dan 7 tahun. Periode ini di sebut pra-operasional, karena pada umur ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, yaitu menambah, mengurangi, dan lain-lain.

    Tingkat pra-operasional terdiri atas dua sub-tingkat. Sub-tingkat pertama antara 2 – 4 tahun yang disebut sub-tingkat pralogis, sub-tingkat kedua ialah antara 4 hingga 7 tahun yang disebut tingkat berpikir intuitif. Pada sub-tingkat pra-logis penalaran anak adalah transduktif. Menurut Piaget, berpikir anak itu bukan deduksi dan bukan induksi. Mereka bergerak dari khusus ke khusus, tanpa menyentuh pada yang umum. Anak itu melihat suatu hubungan hal-hal tertentu, yang sebenarnya tidak ada. Piaget menyebut ini menalar transduktif.

    Anak pada tingkat pra-operasional tidak dapat berpikir reversibel. Jadi kita lihat bahwa reversibel ialah kemampuan berpikir kembali pada titik permulaan, menuju pada satu arah dan mengadakan kompensasi dengan menuju pada arah yang berlawanan. Anak pra-operasional tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan berpikir reversibel. Pikiran anak pra-operasional irreversibel.

    Ada hal lain yang perlu kita ketahui tentang anak pra-operasional, yaitu sifat-egosentris. Menurut Piaget anak pra-operasional bersifat egosentris, yang berarti anak itu mempunyai kesulitan untuk menerima penda[at orang lain. Sifat egosentris memasuki arena bahasa dan komunikasi, bukan personalitas anak. Sifat egosentris ini dapat kita perhatikan pada anak-anak pra-operasional bermain bersama-sama. Selanjutnya anak pra-operasional lebih menfokuskan diri pada aspek statis tentang suatu peristiwa daropada transformasi dari satu keadaan pada keadaan lain.

3. Tingkat Operasi Konkrit

    Periode operasional konkrit adalah antara umur 7 – 11 tahun. Tingkat ini merupakan permulaan berpikir rasional. Ini berarti, anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkrit. Bila menghadapi pertentangan antara pikiran dan persepsi, anak dalam periode operasional konkrit memilih pengambilan keputusan logis, dan bukan keputusan perseptual seperti anak pra-operasional. Operasi-operasi pada periode ini terikat pada pengalaman perorangan. Operasi-operasi itu konkrit, bukan operasi-operasi formal. Anal belum dapat berurusan dengan materi abstrak, seperti hipotesis dan proposisi-proposisi verbal.

    Reversibilitas merupakan kriteria utama dalam berpikir operasional dalam sistem Piaget. Ini berarti, bahwa setiap operasi logis atau matematis dapat ditiadakan dengan operasi yang berlawanan. Asosiativitas merupakan operasi yang menggabungkan kelas-kelas dalam urutan apa saja. Dalam penalaran, operasi ini mengizinkan anak sampai pada jawaban melalui banyak macam cara. Identitas ialah operasi di mana terdapat suatu unsur nol yang bila digabungkan dengan unsur atau kelas apapun, tidak menghasilkanperubahan. Demikian pula, suatu kuantitas dapat dinolkan dengan menggabungkan lawannya.

    Anak dalam periode ini dapat menyususn satu seri objek dalam urutan, misalnya mainan-mainan kayu atau lidi-lidi, sesuai dengan ukuran-ukuran benda itu. Piaget menyebut opersi ini seriasi. Tetapi, anak hanya akan dapat melakukan ini selama masalahnya konkrit. Selama periode ini bahasa juga berubah. Anak-anak menjadi kurang egosentris dan lebih sosiosentris dalam berkomunikasi. Mereka berusaha untuk mengerti orang lain dan mengemukakan perasaan dan gagasan-gagasan mereka pada orang dewasa dan teman-teman. Proses berpikir pun menjadi kurang egosentris, dan mereka sekarang dapat menerima pendapat orang lain.

4. Tingkat Oparsional Formal

    Pada umur kira-kira 11 tahun, timbul periode operasi baru. Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkritnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini ialah bahwa ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa-peristiwa konkrit, ia mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak.

    Flavell (1963) mengemukakan beberapa karakteristik dari berpikir operasional formal. Pertama, berpikir adolesensi ialah hipotesi deduktif. Ia dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menanggapi masalah, dan mencek data terhadap setiap hipotesis untuk membuat keputusan yang layak. Tetapi, ia belum mempunyai kemampuan untuk menerima atau menolak hipotesis.

    Kedua, periode ini ditandai oleh berpikir proposional. Dalam berpikir seorang anak operasional formal tidak dibatasi pada benda-benda ataunperistiwa-peristiwa konkrit, ia dapat menangani peristiwa-peristiwa atau proposisi-proposisi yang memberikan data konkrit ini.ia bahkan dapat menangani proposisi yang berlawanan dengan fakta.

    Ketiga, seorang adolesen berpikir kombinatorial, yaitu berpikir meliputi semua kombinasi benda-benda, gagasan-gagasan atau proposisi-proposisi yang mungkin. Keempat, anak operasional formal berpikir refleksif. Anak-anak dalam periode ini berpikir seperti orang dewasa. Ia dapat berpikir kembali pada satu seri operasional mental. Dengan perkataan lain ia dapat berpikir tentang “berpikirnya”. Ia dapat juga menyatakan operasi mentalnya dengan simbol-simbol.

C.    FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNJANG PERKEMBANGAN INTELEKTUAL

Suatu pertanyaan yang diajukan mengenai tingkat-tingkat perkembangan intelektual Piaget ialah: “apakah yang menyebabkan seorang pindah dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain?”. Berdasarkan hasil studinya yang bertahun-tahun, Piaget mengemukakan bahwa ada 5 faktor yang mempengaruhi transisi ini. Kelima faktor itu adalah : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), pengalaman logiko matematik (logico-mathematical), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibration) atau proses pengaturan-sendiri (self-regulation) (Phillips, 1981).

1. Kedewasaan

Perkembangan system saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan manifestasi fisik lainnya mempengaruhi perkembangan kognitif. Walaupun kedewasaan atau maturasi merupakan faktor penting dalam perkembangan intelektual, namun maturasi tidak cukup menerangkan perkembangan intelektual ini. Andaikata dapat, maka peranan guru sangat kecil dalam mempengaruhi perkembangan intelektual anak.

2. Pengalaman Fisik

Interaksi dengan lingkungan fisik digunakan anak untuk mengabstrak berbagai sifat fisik dari benda-benda. Bila seorang anak menjatuhkan sebuah benda dan menemukan bahwa benda itu pecah, atau bila ia menempatkan benda itu dalam air kemudian melihat bahwa benda itu terapung, maka ia sudah terlibat dalam proses abstraksi, yaitu abstraksi sederhana atau abstraksi empiris. Pengalaman ini disebutr pengalaman fisik untuk membedakannya dari pengalaman logiko-matematik, tetapi secar paradox pengalaman fisik ini selalu melibatkan asimilasi pada struktur-struktur logiko-matematik. Pengalaman fisik ini meningkatkan kecepatan perkembangan anak, sebab observasi benda-benda serta sifat-sifat benda-benda itu menolong timbulnya pikiran yang lebih kompleks.

3. Pengalaman Logiko-Matematik

Bila seorang anak mengamati benda-benda, selain pengalaman fisik ada pula pengalaman lain yang diperoleh anak itu, yaitu waktu ia membangun atau mengkonstruk hubungan-hubungan antara objek-objek. Sebagai contoh misalnya, anak yang sedang menghitung berapa kelereng yang dimilikinya, dan ia menemukan “sepuluh” kelereng. Konsep “sepuluh” bukannya suatu sifat dari kelereng- kelereng itu, melainkan suatu konstruksi dari pikiran anak itu. Pengalaman dari konstruksi itu dan konstruksi-konstruksi yang lain yang serupa disebut pengalaman logiko-matematik, untuk membedakannya dari pengalaman fisik. Proses konstruksi biasanya disebut abstraksi reflektif. Piaget membuat perbedaan penting antara abstraksi reflektif dan abstraksi empiris. Dalam abstraksi empiris, anak memperhatika sifat tertentu dari benda dan tidak mengindahkan hal-hal lain. Misalnya waktu ia mengabstrak warna dari suatu benda, ia sama sekali tidak memperhatikan sifat-sifat yang lain, seperti massa dan dari bahan apa benda itu terbuat. Sebaliknya, abstraksi reflektif melibatkan pembentukan hubungan-hunbungan antara benda-benda. Hubungan itu, seperti konsep “sepuluh” yang telah dikemukakan di atas, tidak terdapat pada kelereng yang manapun, atau di mana saja di alam nyata ini. “sepuluh” itu hanya terdapat dalam kepala anak yang sedang menghitung kelereng-kelereng itu. Mungkin lebih baik digunakan istilah abstraksi konstruktif dari pada istilah abstraksi reflektif, sebab istilah itu menunjukkan bahwa abstraks itu merupakan suatu konstruksi sungguh-sungguh oleh pikiran.

4. Trasmisi Sosial

Pengetahuan yang diperoleh anak dari pengalaman fisik diabstraksi dari benda-benda fisik. Dalam hal pengalaman logiko-matematik, pengetahuan dari tindakan-tindakan anak terhadap benda-benda itu. Dalam transmisi sosial, pengetahuan itu datang dari orang lain. Pengaruh bahasa, instruksi formal, dan membaca, begitu pula interaksi dengan teman-teman dan orang-orang dewasa termasuk faktor transmisi social, dan memegang peranan dalam perkembangan intelektual anak.

5. Pengaturan-sendiri

Pengaturan-sendiri atau equilibrasi adalah kemampuan untuk mencapai kembali kesetimbangan (disequilibrium). Equilibrasi merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat-tingkat berfungsi kognitif yang lebih tinggi melalui asimilasi dan akomodasi, tingkat demi tingkat.

D. PENGETAHUAN FISIK, PENGETAHUAN LOGIKO-METEMATIK DAN PENGETAHUAN SOSIAL

    Dalam teori Piaget, ada tiga bentuk pengetahuan yakni pengetahuan fisik (physical knowledge), pengetahuan logiko-metematik (logico-mathematical knowledge) dan pengetahuan sosial (social knowledge) yang dapat dibedakan menurut sumber-sumber utamanya, serta cara penstrukturnya. Ketiga bentuk pengetahuan diatas terdapat bersama-sama, tidak terpisah-pisah, kecuali dalam metematika murni dan logic.

1. Pengetahuan Fisik dan Pengetahuan Logiko-Matematik

    Pengetahuan fisik merupakan pengetahuan tentang benda-benda yang ada di luar dan dapat diamati dalam kenyataan eksternal. Contoh: sebuah bola memantul jika dijatuhkan ke lantai, sedangkan sebuah gelas pecah bila jatuh ke lantai. Berat dan warna suatu benda juga merupakan pengetahuan fisik. Sumber pengetahuan fisik terutama terdapat dalam benda itu sendiri, yaitu dalam cara benda itu memberi pada subjek kesempatan-kesempatan untuk pengamatan.

    Pengetahuan logiko-matematik terdiri atas hubungan-hubungan yang diciptakan subjek dan diintroduksikan kepada objek-objek. Contoh: perbadaan antara bola merah dan bola biru. Hubungan “perbedaan” tidak terdapat pada bola merah maupun bola biru, demikian pula tidak dapat ditemukan di mana saja dalam keadaan eksternal. Perbedaan itu hanya terdapat di dalam kepala anak yang menempatkan kedua objek tersebut dalam hubungan ini, dan bila anak itu tidak dapat menciptakan hubungan ini, perbedaan itu tidak akan ada padanya.

    Anak itu dapat pula menempatkan kedua bola itu dalam hubungan “sama” sebab kedua bola tersebut merupakan bola bilyard. Persamaan ini pun tidak terdapat baik pada bola biru maupun bola merah, tetapi dalam pikiran anak yang menganggap kedua bola itu sama,

2. Pengetahuan Sosial

    Pengetahuan sosial seperti fakta bahwa hari Minggu anak-anak tidak bersekolah yang didasarkan pada perjanjian sosial suatu kebiasaan yang dibuat manusia. Tidak seperti pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik, pengetahuan sosial membutuhkan manusia. Tanpa interaksi dengan manusia, tak mungkin bagi seorang anak untuk memperoleh pengatahun sosial.

    Pengetahuan sosial dan pengetahuan fisik serupa dalam hal keduanya yakni pengetahuan tentang isi (content), dan bersumber terutama dari kenyataan eksternal. Namun, diperlukan pula logiko-matematik sebab tanpa logiko-matematik, anak tidak akan dapat mengerti perjanjian apapun seperti ia tidak dapat mengenal suatu benda kuning terbuat dari kayu sebagai sebuah pensil.

    Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pengetahuan fisik dan pengetahuan sosial merupakan pengetahuan empiris sedangkan pengetahuan logiko-matematik merupakan pengetahuan menurut tradisi rasionalis.

E. BAGAIMANA PENGETAHUAN DIPEROLEH?

    Menurut Piaget, pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu atau tanda atom unsur-unsur dalam ilmu kimia dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun, pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak dapat secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran siswa. Setiap anak harus membangun sendiri pengetahuan-pengetahuan itu melalui operasi-operasi, dan salah satu caranya yakni dengan ekuilibrasi.

1. Konstruksi Pengetahuan

    Ekuilibrasi adalah proses kecenderungan kembali ke ekuilibrium (keseimbangan). Piaget membagi tiga macam ekuilibrium yakni:

a. Antara subjek dan objek

b. Antara skema-skema atau sub-subsistem

c. Antara pengetahuan keseluruhannya dan bagian-bagiannya

2. Model Konstruktivitas dalam Mengajar

    Beberapa prinsip dalam mengajarkan sains di kelas yakni:

a. Siapkanlah benda-benda nyata untuk digunakan para siswa

    Ada dua alasan dalam prinsip ini. Yang pertama yakni pengetahuan fisik diperoleh dengan berbuat pada benda-benda dan melihat bagaimana benda-benda itu bereaksi. Misalnya untuk mengetahui apakah benda dari tanah liat dapat terapung dalam air, anak itu harus berbuat sesuatu pada benda itu dan memperoleh jawaban dari benda itu juga. Sambil ia mengubah-ubah perlakuannya, ia menghubungkan perubahan-perubahan dalam perlakuannya dan perubahan-perubahan dalam reaksi benda-benda tersebut. Dalam hal ini, bukan hanya pengetahuan fisik yang di kembangkannya, melainkan juga pengetahuan logiko-matematik.

    Alasan kedua yakni inilah satu-satunya cara agar mereka dapat menglogiko-matematikkan kenyataan. Bukan dengan cara belajar kata-kata para siswa menjadi lebih baik berpikir menganai alam nyata.

b. Dengan memperhatikan empat cara di bawah ini mengenai berbuat terhadap benda-benda, pilihlah pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak

  • Berbuat terhadap benda-benda dan melihat bagaimana benda-benda itu bereaksi
  • Berbuat terhadap benda-benda untuk menghasilkan suatu efek yang diinginkan
  • Menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek yang diinginkan
  • Menjelaskan

Bila digunakan dua pendekatan yang pertama, para siswa dapat diminta untuk menjelaskan yang menyebabkan mereka berpikir. Dalam pelajaran “Terapung, melayang dan tenggelam”, guru dapat menggunakan pendekatan kedua bila ia meminta para siswa untuk membuat kapal tanah liat yang dapat terapung dalam air, kemudian bila guru bertanya apa yang akan terjadi bila anak-anak menempatkan benda-benda dalam kapal tanah liat itu, maka guru menggunakan pendekatan pendekatan yang pertama.

Pendekatan yang ketiga yakni menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek yang diinginkan, dapat digunakan bila guru menganjurkan siswa untuk bertanya pada siswa lain bagaimana ia menyelesaikan tugasnya. Ini merupakan suatu contoh situasi yang secara edukatif baik bagi siswa yang mengajarkan sesuatu dan bagi siswa yang diajar sesuatu.

c. Perkenalkan kegiatan yang layak dan menarik dan berilah para siswa kebebasan untuk menolak saran-saran guru

d. Tekankan penciptaan pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah demikian pula pemecahan-pemecahannya

e. Anjurkan para siswa untuk saling berinteraksi

f. Hindari istilah-istilah teknis dan tekankan berpikir

g. Anjurkan para siswa berpikir dengan cara mereka sendiri

h. Perkenalkan ulang (reintroduce) materi dan kegiatan yang sama setelah beberapa tahun

3. Siklus Belajar

    Salah satu strategi mengajar untuk menerapkan model konstruktivis adalah penggunaan siklus belajar (Heron, 1988). Sikluus belajar terdiri atas tiga fasa yakni fasa eksplorasi, fasa pengenalan konsep dan fasa aplikasi konsep.

    Fase eksplorasi mengajarkan para siswa melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi baru. Misalnya para siswa bereksperimen dengan gas-gas yang terdapat dalam tabung penyuntik. Fenomena baru itu seharusnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak bisa pecahkan dengan gagasan-gagasan mereka yang ada atau dengan pola-pola penalaran yang biasa mereka gunakan. Dengan kata lain fasa ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan mereka yang bertentangan dan dapat menimbulkan perdebatan dan suatu analisis mengenai mengapa mereka mempunyai gagasan demikian.

    Fasa kedua yakni pengenalan konsep yang biasanya dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep-konsep yang ada hubungannya dengan yang diselidiki, dan didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati dalam fase eksplorasi. Misalnya dalam fasa ini dapat didiskusikan tentang apa itu tekanan gas dan volume gas.

    Fasa ketiga yakni aplikasi konsep yang menyediakan kesempatan bagi para siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk menyelidiki sifat-sifat gas-gas lebih lanjut.

 KESIMPULAN

  1. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yakni:
  • Struktur
  • Isi
  • Fungsi
  1. Tingkat-tingkat perkembangan intelektual dibagi menjadi empat yakni:
  • Sensori-motor         (0 – 2 tahun)
  • Pra-operasional     (2 -7 tahun)
  • Operasional konkrit     (7 – 11 tahun)
  • Operasi formal     (11 – ke atas)
  1. Adapun faktor-faktor yang menunjang perkembangan intelektual yakni:
  • Kedewasaan
  • Pengalaman fisik
  • Pengalaman logiko-matematik
  • Transmisi sosial
  • Pengaturan sendiri
  1. Piaget membagi tiga bentuk pengetahuan, yakni:
  • Pengetahuan fisik
  • Pengetahuan logiko-matematik
  • Pengetahuan sosial

 

  Sumber referensi:

Danar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s