Kepustakaan Kimia: Perdagangan Literatur

  1. A.    Pengertian Perdagangan Literatur

Perdagangan literatur terdiri dari dua kata yaitu perdagangan dan litertur. Perdaganga didefinisikan sebagai pekerjaan membeli barang dari suatu tepat atau suatu waktudan menjual barang tersebut ditempat an waktu lainnya untuk memperoleh keuntungan atau dengan kata lain perdagangan adalah suatu pemberian perantara antara produsen dengan konsumen, sedangkan literature didefinisikan sebagai bahan pustaka atau sumber informasi. Pustakawan harus dapat mengenali berbagai jenis literatur agar dapat melakukan kegiatan akuisisi dengan tepat dan benar sesuai dengan kebutuhan pustakawan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perdaganga litertur adalah suatu kegiatan membeli  literatur dari suatu tempat dan suatu waktu baik untuk enjual sendiri atau untuk kebutuhan sendiri.

  1. B.     Jenis-jenis literature
  2. Literatur Primer

a)   Ensiklopedi

Ensiklopedi dapat didefinisikan sebagai: “Sebuah karya ilmiah berisi informasi yang sangat luas, dalam berbagai bidang pengetahuan, dan biasanya disusun secara alphabetis subyek atau nama”. Istilah “sangat luas” bukan berarti semuanya. Istilah tersebut hanyalah menggambarkan sebagai sesuatu yang sangat luar biasa, seperti dengan istilah yang digunakan oleh Diderot, bahwa sebuah ensiklopedi memiliki nilai yang bersifat mistisius. Bukan mistik yang berarti tidak nyata, namun mendekati itu karena sangat luar biasa. Setiap ensiklopedi yang diterbitkan, biasanya menguraikan banyak artikel secara detail, seringkali pula disertai daftar bacaan pada setiap bagian atau sub-bagiannya; ada uraian singkat dan ada uraian yang panjang disertai informasi tentang berbagai data seperti tanggal lahir dan kematian para ilmuwan terkenal, lokasi geografis dan peristiwa-peristiwa bersejarah. Cakupan ini menyebabkan ensiklopedi sangat ideal untuk dikatakan sebagai bahan rujukan. Dan ensiklopedi yang besar seringkali menjadi tumpuan pustakawan untuk memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para pemakai perpustakaan ataupun pencari informasi lainnya. Bahan pustaka yang tertulis pada bagian bawah artikel membantu pembaca untuk dapat menemukan informasi tambahan yang diperlukan untuk memperkaya wawasan keilmuan atau khazanah keilmuan, ataupun untuk memperoleh penjelasan yang dianggap kurang komplit ketika membaca artikel yang ada dalam sebuah ensiklopedi. Artikel dalam ensiklopedi merupakan sebuah rangkuman dari konsep yang sangat panjang, bukan hanya sekedar sebuah potongan atau bagian dari konsep tersebut.

Hugh Kenner secara cerdik meringkas isi dan tujuan ensiklopedi sebagai berikut: “Ensiklopedi membuat kita seperti melompat dari suatu masa yang sangat panjang, dan ensiklopedi merupakan suatu yang tak mungkin ditulis hanya oleh seseorang, dan setiap orang hendaknya membacanya”. Bukannya tidak mungkin terjadi kritikan terhadap sebuah ensiklopedi. Jika ini ada mungkin disebabkan karena penyusunan sebuah ensiklopedi memerlukan waktu yang cukup lama sehingga begitu selesai penyusunannya, mungkin pengetahuan yang dicakupnya sudah bergerak maju dan berkembang, sehingga apa yang diuraikan dalam ensiklopedi dapat dikatakan ketinggalan. Saat ini berbagai ensiklopedi disusun dengan bebagai tujuan pula. Tetapi intinya adalah untuk mengumpulkan dan mengorganisir pengetahuan yang tersebar di berbagai belahan dunia, atau untuk memenuhi kebutuhan informasi para pembaca. Hampir semua bidang pengetahuan dan informasi dikupas, dirinci dan dijelaskan melalui berbagai artikel yang disusun secara detail dan didukung oleh fakta-fakta yang akurat.

Berdasarkan cakupannya ensiklopedi bisa dibedakan menjadi:

1)       Ensiklopedi umum, yang tidak mambatasi cakupannya pada subyek tertentu. Contoh: Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: Ichtisar, 1983-.;

                         Encyclopedia Americana. New York: Grolier, 1986. 30 jilid.

2)      Ensiklopedi khusus, yang membatasi cakupannya pada bidang atau subyek tertentu.

b)      Kamus

Kamus berisi daftar kata dasar suatu bahasa yang disusun menurut abjad. Kamus

yang baik disertai dengan keterangan mengenai bentuk, tanda baca, fungsi, asal-usul atau sejarah kata,arti, sinonim, antonim, sintaksis dan ungkapan tiap kata. Ada kamus yang memuat semua keterangan tersebut secra lengkap, dan ada kamus yang hanya memuat beberapa bagian saja. Istilah lain dari kamus adalah; daftar kata/istilah, takarir, glosari, leksikon, dan mu’jam.

Menurut isinya, kamus dibedakan menjadi:

1)      Kamus umum

Contoh: Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990;

Abi al-Fadhal Jamaluddin Muhammad bin Mukrim ibn Mandhur al-Afriqiy

al-Mishriy. Lisan al-Arab. Beirut: Dar al-Fikr, 1997. 15 jilid.

2)       Kamus khusus

Contoh: DR. Abdush-Shobur Marzuq. Al-Mu’jam al-A’lam wal-maudhu’at fi al-

Qur’an al-Karim. Beirut: Dar al-Syuruq. 1995. 3 jilid

Samih ‘Athifuzzain. Mu’jam al-Amtsal fi al-Qur’an al-Karim. Kairo: Dar

al-Kutub al-Mishriy. 2000.

3)       Kamus subjek

Contoh: Ahmad Abthoni IKM. Kamus Lengkap Teknik (Inggris – Indonesia).

Surabaya: Gitamedia, 1998.

Kamus Lengkap Dunia Komputer. Yoygakarta: Andi, 2002

Menurut jumlah bahasa yang digunakan, maka kamus dapat dibedakan menjadi

tiga kelompok, yaitu:

4)      Kamus ekabahasa

Contoh: Al-Munjid. Beirut: Dar al-Fikr

Samih ‘Athifuzzain. Mu’jam Tafsir mufradat alfadh al-Qur’an al-Karim.

Beirut: Dar al-Kutub al-Libanoniy. 2000

5)       Kamus dwibahasa

Contoh: Ahmad Warson Munawwir. Al-Munawwir Kamus Arab – Indonesia.

Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir. 1984.

John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta:Gramedia, 1990.

Pustakawan Universitas Negeri Malang – Oct-09 Page: 6

M. Mansoeor. English – Arabic Dictionary of Political, Diplomatic and

Conference Terms. New York: McGraw-Hill. 1961.

6)       Kamus aneka bahasa atau kamus poligot, yaitu kamus yang istilah-istilahnya dijelaskan dengan berbagai bahasa.

Contoh: Sugiarto. dkk. Kamus Indonesia – Daerah: Jawa, Bali, dan Sunda

c)      Almanak dan Buku Tahunan

Almanak adalah buku yang memuat informasi tentang data atau statistik yang

berkaitan dengan negara, kejadian, pejabat, subjek dan kehidupannya. Banyak almanac subyek yang diterbitkan secara tahunan atau tengah tahunan, yang kadang kadang disebut dengan Yearbook atau Annuals atau buku tahunan. Biasanya almanak memiliki bahasan

d)     Buku pegangan Manual

Buku pegangan (handbook) berisi informasi mengenai petunjuk dan identifikasi suatu masalah secara mendasar. Buku ini banyak memuat keterangan dan informasi yang berupa tabel-tabel, simbol, formula dan istilah yang berkaitan dengan suatu subjek yang dibahasnya.

e)      Biografi

The Concise Oxford Dictionary dengan ringkas memberikan definisi biografi

sebagai penulisan tentang kehidupan seseorang. Lebih lengkap lagi biografi dapat

dijelaskan sebagai penulisan kehidupan seseorang yang diperoleh dari ingatan, dari bahan tertulis atau secara lisan.

  1. Lieratur Sekunder

a)   Bibliografi

Bibliografi adalah daftar buku-buku dalam bidang atau subyek tertentu, di mana

hakekat keberadaan (lokasi) buku-buku tersebut tidak dibatasi pada satu perpustakaan

tertentu. Bibliografi biasanya disusun menurud abjad pengarang atau kronologis atau

subyek. Kadang-kadang bibliografi disertai dengan anotasi dan disebut dengan bibliografi bernotasi.

b)   Catalog

Katalog dalam istilah perpustakaan adalah sarana yang mendaftar seluruh koleksi perpustakaan. Dalam hal ini katalog dapat dibedakan menjadi:

1).  Katalog Perpustakaan, yaitu daftar buku atau koleksi yang dimiliki oleh suatu Perpustakaan tertentu.

Contoh: Katalog Perpustakaan Pondok Pesantren Al-Hikam Callimachus. Penakes.

erome Samuel. Katalog Beranotasi Ensiklopedi, Kamus, dan Daftar Istilah Bahasa Indonesia (1741-1995). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001

2).  Katalog Induk, daftar buku atau koleksi yang tidak terbatas pada satu perpustakaan saja. Sudah tentu dalam katalog semacam ini ada penunjukan terhadap keberadaankoleksinya.

Contoh: Tabulas Septe Custodiarum Super Bibliam di Inggris tahun 1300. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap di Indonesia tahun 1850 Katalog Induk Disertasi Indonesia. Jakarta: PDII-LIPI

c)   Indeks

Indeks adalah sarana fisik yang mengacu ke bagian koleksi dokumen yang secara potensial relevan dengan permintaan informasi. Ada indeks yang menyatu dengan sebuah buku dan ada indeks yang terpisah dengan bahan pustaka yang diindeksnya. Indeks bias dikelompokkan menjadi:

1).  Indeks buku, berisi daftar kata-kata penting disertai nomor yang mengacu ke

bagian koleksi dokumen. Indeks jenis ini biasanya terletak pada bagian akhir sebuah buku.

2). Buku indeks, merupakan sebuah buku yang berdiri sendiri bisa terdiri dari satu jilidatau lebih berisi daftar kata-kata diserta dengan nomor yang mengacu kepada bagian.

d). Abstrak

Yang dimaksud dengan abstrak disini adalah majalah abstrak, yaitu terbitan berseri dengan frekuensi teratur yang berisi sari karangan atau abstrak dari artikel penting dalam subyek tertentu yang terbit dalam majalah primer. Dapat juga abstrak ini berasal dari sari karangan monograf berisi hasil penelitian, laporan penelitian,paten, serta sumber primer ain dalam bidang tertentu.

Majalah abstrak berfungsi juga sebagai indeks sehingga dapat digunakan sebaga sarana temu balik informasi serta memberikan gambaran singkat mengenai penelitian yang sedang berlangsung.

  1. Literatur Tersier

a)      Bibliografi dan Biografi

Tujuan literatur tersier untuk mengetahui atau menelusur informasi sekunder:

Contoh: Leeson, Ida. 1954. A Bliography of Bibliographies of the South Pacific.

London: Oxford University Press, 1954.

Kemp, Herman C. Annotated bibliography of bibliographies on

Indonesia. Leiden: KITLV Press, 1990.

Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bibliografi tentang

bibliografi Indonesia. Jakarta: Proyek Pengembangan Perpustakaan –

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977.

b)      Direktori

Direktori berasal dari kata direct yang berarti menunjuk. Direktori adalah suatu

bahan rujukan yang memuat daftar organisasi atau perorangan, disusun secara alphabetis atau kadang-kadang secara sistematis. Jadi direktori hanya memberi informasi penunjukan, bukan memberi informasi secara langsung

Ada direktori perseorangan yang memuat alamat, profesi, kantor atau informasi penting lainnya yang menyangkut orang tersebut. Dan ada juga direktori lembaga atau organisasi biasanya memuat informasi seperti alamat, pejabat-pejabatnya, fungsi dan keterangan lain yang berkaitan dengan organisasi itu. Dengan demikian direktori adalah semua bahan pustaka atau dokumen yang memungkinkan kita untuk menemukan dan mengetahui informasi tentang organisasi atau perorangan.

Contoh: Direktori Pesantren I. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan

Masyarakat (P3M), 1986.

Bambang Hariyanto. Direktori Beasiswa Pendidikan Dasar Menengah

dan Tinggi, Dalam dan Luar Negeri tahun 2004-2005..Jakarta: Raja-raja,

2006.

  1. C.    Bentuk Sumber Informasi

Kebutuhan informasi yang dimiliki setiap orang selalu berbeda-beda. Menurut Javerlin (2003:23) jenis-jenis informasi dikelompokkan berdasarkan:

1). Informasi yang berkaitan dengan masalah, menggambarkan struktur, sifat dan syarat dari masalah yang sedang dihadapi, misalnya dalam masalah konstruksi jembatan, informasi yang dibutuhkan adalah mengenai jenis, tujuan dan masalah yang dihadapi dalam membangun konstruksi jembatan

2). Informasi yang berkaitan dengan wilayah terdiri dari pengetahuan tentang fakta, konsep, hukum dan teori dari wilayah permasalahan. Misalnya dalam masalah konstruksi jembatan, wilayah informasi yang diperlukan adalah kekuatan dan tingkat pemuaian besi. Jenis informasi yang dibutuhkan berupa uji ilmiah dan teknologi informasi

3).Informasi sebagai pemecahan masalah, menggambarkan bagaimana melihat dan memformulasikan masalah, apa masalah dan wilayah informasi bagaimana yang akan digunakan dalam upaya memecahkan masalah. Misalnya dalam konstruksi jembatan, insyinyur perencana akan menghadapi pro dan kontra mengenai berbagai informasi desain jenis jembatan. Ini hanya dapat dipecahkan pada keahlian seseorang dan pengetahuan yang dimiliki.

Berdasarkan uraian di atas, dalam menentukan jenis kebutuhan informasi pengguna sangatlah sulit, itu disebabkan oleh banyaknya kebutuhan informasi yang dimiliki setiap pengguna, seperti penentuan terhadap masalah yang akan dibahas. Untuk itu perlu adanya dilakukan pendekatan kepada pengguna untuk mengetahui lebih jelas mengenai kebutuhan dari pengguna.

 

Struktur dari Kebutuhan Informasi

Informasi saat ini dianggap sebagai fenomena yang sangat kompleks yang dihasilkan oleh lingkungan disekitar, dengan adanya hal tersebut maka dibutuhkan adanya suatu struktur dari kebutuhan informasi.

 

(Sumber: Kancleris 1977)

Gambar 2: Structure of information need

Berdasarkan gambar yang di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan informasi itu muncul akibat adanya kebutuhan akan informasi yang tidak terbatas, dengan adanya informasi yang tidak terbatas tersebut maka dapat diketahui lah bahwa apa bentuk dari kebutuhan, setelah bentuk dari kebutuhan akan informasi tersebut diketahui maka kebutuhan itu harus dipenuhi guna mendapatkan informasi yang akurat dan bermanfaat.

 

 

  1. D.       Cara- cara melakukan perdagangan literatur

Beberapa cara yang ddilakukan dalam perdagangan literatur yaitu :

  1. Melaui perdagangan pasar

Perdagangan dlakukan dengan mengumpulkan para produsen, kemudian menyebarkan melalui pedagang besar, pedaag menengah, kemudian konsumen.

  1. Melalui situs internet

Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi di zaman sekarang ini, masyarakat sudah banyak melakukan transaksi perdagangan literatur melalui media internet. Dan bahkan mereka bisa mengumpulkan dari dalam maupun luar negeri.

  1. Melalui pembelian secara langsung

Pembelian literatur dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu membeli lngsung ke toko buku dan penerbit maupun agen bak di dalam negeri tau luar negeri. Cara pembelian yang dipilih sangat bergantung pada berbagai hal, misalnya ketersediaan dan kesediaan judul-kudul subjek yang diperlukan, besarnya dana pembelian serta persyaratan yang menyertainya dan lain-lain. Dalam hal ini perpustakaan swasta, persyaratan pembelian dan penyediaan dana umumnya lebih lancar dibandingkan pada perpustakaan pemerintah. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, banyak dijumpai persoalan dalam hal pengadaan buku.

  1. Melalui barter literatur

Kegiatan pertukaran mempunyai potensi yang cukup besar, mengingat dana pengadaan yang terbatas, dan adanya terbitan yang tidak dapat dibeli di toko buku, serta pertukaran merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan kerja sama yang baik antar perpustakaan. Selain itu, dengan melakukan pertukaran, akan memberi kesempatan kepustakaan mengeluarkan bahan-bahan duplikat yang tidak dibutuhkan. Sebelum melakukan kesepakatan tukar-menukar bahan pustaka dengan kepustakaan lain, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu apakah bahan pustaka yang ditawarkan oleh perpustakaan lain subyeknya sesuai degan subyek yang dicakup oleh perpustakaan kita, serta perlu disiapkannya bahan pustaka yang akan digunakan  sebagai penukarnya, karena pada umumnya perbandingan publikasi adalah 1:1 dengan tidak memandang berat, tebal atau tipis publikasi, harga ,aupun bahasa. Bahan penukar yang perlu disiapkan dapat berasal dari bahan duplikat yang berlebih, atau merupakan terbitan sendiri. Selain dari itu perlu diidentifikasi lebih dahulu, perpustakaan atau lembaga mana saja yang dapat melakukan kerjasama dalam melakukan pertukaran bahan pustaka.

  1. E.  Tabel Tabel Contoh Publikasi Perdagangan

                       Contoh Tabel Publikasi Perdagangan

Jenis

Rincian

Jumlah

Satuan

Harga/Satuan

(Rp)

Total Harga

(Rp)

Penelusuran Literatur Pemrograman Shell di Linux [Wahyu Wijanarko]

(Andi Publishing)

1

Buah

20.000

20.000

  Buku: Tutorial Pemrograman Shell Linux

[Teguh Wahyono] (Andi Publishing )

1

Buah

20.000

20.000

  Buku Mini: Membuat Distro Linux Sendiri [Ahmad Sofyan] ( Dian Rakyat )

1

 

Buah

 

45.000

 

45.000

 

  Tool Pemrograman Bahasa C/C++ Di Gnu/ Linux [Tedy Heriyanto, Eko Bono Supriadji]

1

Buah

45.000

45.000

Bahan Habis Pakai CD/DVD Blank Disc

VERBATIM ValuLife

CD-R Media 74min 650MB – Spindle -50 buah/pak

3

Pak

202.500

615.000

  Label CD 100 buah/pak

2

Pak

30.000

60.000

  Kotak CD

150

Buah

2.000

300.000

  ATK

1

Set

60.000

60.000

  Kertas A4

Bola Dunia

2

 

Rim

 

35.000

 

70.000

  Tinta Printer HP3320

Hitam

1

Buah

135.000

135.000

Peralatan CD Burner External

Lite-on LTR – 52327SX

1

Unit

530.000

530.000

Pengadaan Perangkat Lunak Fedora 7 Moonshine DVD

Installer + Repositori

( Gudang Linux )

1

Buah

150.000

150.000

  Linux From Scratch (LFS) 6.3 x86-LiveCD

(Gudang Linux)

1

Buah

20.000

20.000

Transportasi Kunjungan Ke Sekolah-Sekolah Dasar

5

Paket

50.000

250.000

Konsumsi Paket Makan untuk  4 orang

20

Buah

10.000

200.000

Sosialisasi Perangkat Lunak Sosialisasi ke 5 Sekolah Dasar

5

Paket

300.000

1.500.000

  Flyer

150

Lembar

2.000

300.000

Dokumentasi Cetak Foto Digital

50

Lembar

2.000

100.000

Penyusunan Laporan Biaya Fotocopy dan Jilid

5

Buah

15.000

15.000

TOTAL

 

 

  1. F.        Dampak dari perdagangan literatur
  2. Dampak negatif dari perdagangan literatur
    1. Untuk negara berkembang dseperti Indonesia, banyak dijumpai persoalan dalam hal pengadaan literatur. Misalnya dalam hal pengadaan buku dari luar negeri mempunyai prosedur yang berbelit, baik dalam pembayaran maupun pengiriman bukunya.
    2. Dalam melakukan transaksi khususnya dalam hal melakukan transaksi dalam situs internet, sering tejadi keterlambatan pengiriman baik data pesanan kepada distributor sehingga menyebabkan keterlambatan pengiriman kepada konsumen.
    3. Dalam melakukan transaksi secara barter, biasanya terjadi ketidaksesuaian antara pihak yang satu dengan pihak yang kainnya. Sehingga transaksi tidak berjalan dengan baik dan ada  pihak yang merasa dirugikn dengan cara barter ini.
    4. Dampak positif dari perdagangan literatur
      1. Memudahkan kita dalam mencari literatur yang diinginkan
      2. Memudahkan kita untuk menemukan judul-judul subyek yang diinginkan
      3. Melalui situs internet, kita dapat lebih cepat mengakses literatur yang dibutuhkan dan lebih banyak literatur yang disediakan. Sehingga kita bebas memiih literatur yang sesuai dengan judul-judul subyek.
      4. Melalui transaksi secara barter, kita tidak perlu mengeluarkan dana karena transaksi ini dilakukan dengan pertukaran barang berupa literatur.
      5. Dengan pembelian literatur secara langsung membuat kita puas, karena kita langsung memilih dan melihat secara langsung literatur yang diinginkan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s