Kepustakaan Kimia: Masalah dan Objektivitas

  1. A.      Sejarah Masalah dan  Objektivitas
    1. 1.      Sejarah masalah

Masalah secara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan. Suatu kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, perundang-undangan dengan pelaksanaan, peraturan dengan implementasinya, teori dengan praktik, sehingga menarik minat dan perhatian untuk diteliti/dipelajari.

  1. 2.      Sejarah objektivitas

Sebuah pelukisan sejarah kita sebut subjektif, bila subyek yang tahu – yakni – sejarawan sendiri jelas hadir didalamnya. Sedangkan pelukisan sejarah kita sebut objektif, bila hanya obyek penulisan sejarah dapat diamati (Baca: Ankersmith, Refleksi tentang Sejarah : Pendapat-Pendapat Modern Tentang Sejarah, 1987).
Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Soedjatmoko dalam buku yang ditulis oleh Poesporodjo, bahwa :” Sesungguhnya, setiap pembicaraan tentang problema-problema interpretasi sejarah dan sintesis bahan-bahan sejarah menjadi suatu kisah yang berhubungan ke dalam historiografi Indonesia modern, menjurus kepada persoalan-persoalan tentang subjektivitas dan objektivitas”. Artinya, sejarah yang tergolong ilmu humaniora hendak menyamai ilmu pengetahuan alam yang dinilai ilmiah seperti ilmu eksak. Keobjektifannya dianggap merupakan bukti suatu kebenaran, ilmu pengetahuan alam dapat dibuktikan langsung secara ilmiah dan mampu menjawab persoalan langsung saat itu juga, sedangkan sejarah terutama dalam penulisannya memiliki kelemahan yang dianggap tidak objektif karena memiliki kebenaran yang relatif.Selama ini untuk menjamin keilmiahan suatu ilmu hanya objek, objektif dan objektivitas yang dikejar. Pendekatan objektif dalam ilmu pengetahuan alam terkesan digeneralisasikan dengan pendekatan objektif dalam ilmu sejarah. Dalam pandangan sejarah, subjek mempunyai peranan yang penting. Ternyata subjektivitas, bukan dalam arti subjektivisme, justru merupakan dasar bagi lahirnya objektivitas.

  1. B.        Definisi objektivitas

Ada tiga versi definisi objektivitas;

  1. Objektivitas versi Ilmuan dan Agamawan

Dalam objektivitas versi  ini, Ilmuan dan Agamawan menganggap sifat objektive adalah bilamana individu peneliti yang telah didokterin sebelumnya oleh institusi yang ada tentang peraturan yang menilai benar dan salah melakukan penelitian dengan menggunakan dokterin sebagai alat ukur terhadap individu objeknya. Sifat objektif mengharuskan si peneliti tetap tidak terikat secara emosional dengan objek, mendekati objek tetapi pada jarak-jarak yang tertentu, lalu menilai berdasarkan pada alat ukur yang disediakan oleh istitusi hingga lahirlah kesimpulan tanpa benar-benar memahami object secara individual, maka peneitian ilmiah selalu bersifat kesimpulan umum.

  1. Objektivitas versi Humanis

Dalam objektivitas versi humanisme menganggap sifat objektif adalah bilamana individu peneliti berusaha menghilangkan keberpihakan dan judgement yang ada di dirinya sendiri dan mencoba menilai objek berdasarkan aspek-aspek, pola pikir, keadaan si individu untuk mencari solusi terbaik bagi individu menurut keadaan lingkungan dan cara berpikir individu itu sendiri. Seorang humanis tidak akan mengatakan bahwa klien/objek penelitiannya sakit jiwa dan perlu diobati, seorang humanis hanya akan mencari penyelesaian yang menguntungkan pihak si individu objek yang tidak melanggar ‘moral dasar’ (misal:tidak berbohong, tidak menipu, tidak merugikan kepentingan individu lain, dsb.)

  1. Objektivitas versi Petualang

Dalam objektivitas versi petualang, sikap objektif adalah dengan tidak menerima teori atau kesimpulan begitu saja tanpa pembuktian dengan tolak ukur pengalaman di ruang pribadi. Seorang petualang akan merasa penelitiannya objektif bilamana ia secara sadar telah memasukkan dirinya sendiri ke dalam ruang yang sama dengan object yang diteliti. Hidup bersama

dengan turut menjalankan proses kehidupan, sifat-sifat, pengalaman-pengalaman pribadi objek yang diteliti.

  1. C.      Prinsip Prinsip Objektivitas

Dalam ilmu-ilmu sosial, masalah obyektivitas dari informasi yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan suatu isyu yang utama dalam metode ilmiahnya. Sebab, berbeda dengan dalam sains, informasi yang dikumpulkan itu berasal dari dan mengenai kegiatan- kegiatan manusia sebagai mahluk sosial dan budaya, sehingga dapat melibatkan hubungan perasaan dan emosional diantara peneliti dengan pelaku yang diteliti.

Untuk menjaga obyektivitas tersebut, dalam ilmu-ilmu sosial terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Ilmuwan harus mendekati segala sesuatu yang menjadi sasaran kajiannya dengan penuh keraguan dan skeptik;
  2. Ilmuwan harus obyektif dalam menilai segala sesuatu, yaitu harus membebaskan dirinya dari sikap-sikap pribadinya, keinginan-keinginannya, dan kecenderungan-kecende-rungannya untuk menolak atau menyukai data yang telah dikumpulkannya;
  3. Ilmuwan harus secara etika bersikap netral atau terbebas dari membuat penilaian-penilaian menurut nilai-nilai budayanya mengenai hasil-hasil penemuannya, dan dalam hal ini dia hanya dapat memberikan penilaian mengenai data yang diperolehnya itu apakah sebagai data yang benar atau data yang palsu; dan begitu pula dalam kesimpulan-kesimpulannya dia tidak boleh menganggap bahwa datanya tersebut adalah data akhir, mutlak, atau kebenaran universal. Karena kesimpulan-kesimpulannya hanya berlaku secara relatif sesuai dengan waktu dan tempat dimana penelitian itu dilakukan.

Untuk menjaga nilai obyektif dari data yang dikumpulkan maka dalam setiap kegiatan penelitian harus berpedoman pada metode ilmiah yang ketentuan-ketentuannya mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Prosedur pengkajian/penelitian harus terbuka untuk umum dan dapat diperiksa oleh peneliti lainnya;
  2. Definisi-definisi yang dibuat dan digunakan adalah tepat dan berdasarkan atas konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada;
  3. Pengumpulan data dilakukan secara obyektif;
  4. Penemuan-penemuannya akan ditemukan ulang oleh peneliti lain; yaitu untuk sasaran atau masalah penelitian yang sama dan dengan menggunakan pendekatan dan prosedur penelitian yang sama;
  5. Di luar bidang sains, tujuan kegiatan pengkajian/penelitian adalah untuk pembuatan teori-teori penjelasan, interpretasi, dan prediksi-prediksi (khususnya dalam ilmu ekonomi) mengenai gejala- gejala yang dikaji.

Secara garis besarnya ada dua macam penelitian yaitu:

1.  Penelitian Dasar (basic research), penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk pengembangan teori-teori ilmiah atau prinsip- prinsip mendasar dan umum dari bidang ilmu yang bersangkutan, dan yang penemuan teori-teori ilmiahnya tersebut dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan-kegiatan penelitian yang bersifat aplikasi agar hasilnya lebih baik

2.  Penelitian untuk aplikasi (applied research), yang ditujukan untuk menemukan teori-teori atau prinsip-prinsip yang mendasar dan umum dari masalah yang dikaji untuk dapat memecahkan/mengatasi masalah tersebut dan masalah-masalah lainnya yang tergolonga dalam tipe dan kelas yang sama. Masalah-masalah tersebut dapat berupa, atau berkaitan dengan masalah-masalah, bisnis, pemerintahan, perburuhan, pendidikan, ketegangan sosial, dan sebagainya.

Disamping itu, kegiatan-kegiatan penelitian juga dapat digolongkan menurut corak kegiatannya yaitu:

  1. Penelitian yang dilakukan secara individual, yang dalam hal mana peneliti melakukan kegiatan penelitian semata-mata berlandaskan pada perhatian ilmiah dan bebas dari pengaruh keinginan birokrasi pemerintahnya ataupun kepentingan praktis untuk memecahkan sesuatu masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya; kegiatan penelitian seperti ini hanyalah dengan tujuan untuk memperdalam pengetahuannya dan untuk penciptaan/penemuan teori baru atau verifikasi teori yang sudah ada
  2.  Penelitian terorganisasi sebagai sebuah kelompok penelitian, yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti untuk suatu masalah penelitian yang satu atau untuk sejumlah masalah penelitian yang saling berkaitan dan terkordinasi satu sama lainnya; kegiatan penelitian terorganisasi biasanya dilakukan untuk suatu tujuan aplikasi tertentu. Sesungguhnya kegiatan penelitian aplikasi tidak hanya dilakukan secara terorganisasi dalam bentuk sebuah kelompok peneliti tetapi dapat juga dilakukan oleh seorang peneliti saja. Karena peneliti tersebut biasanya dibantu oleh sejumlah asisten dalam melakukan kegiatan penelitiannya maka juga seringkali kegiatan penelitian seperti ini digolongkan sebagai kegiatan penelitian terorganisasi dalam kelompok.

Tahapan-tahapan Penelitian

Setiap kegiatan penelitian selalu dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan; dan tahapan-tahapan tersebut dilakukan berlandaskan pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam metode ilmiah. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

  1. Masalah penelitian didefinisikan;
  2. Masalah penelitian tersebut dinyatakan/diungkapkan dalam kaitannya dengan sesuatu kerangka teori tertentu dan berkaitan dengan penemuan-penemuan yang telah ada dari hasil-hasil penelitian sebelumnya oleh peneliti lainnya;
  3. Sebuah hipotesis atau sejumlah hipotesis yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut diciptakan, yang dibuat berdasarkan atas teori-teori yang telah ada sebelumnya, dan hipotesis tersebut menjadi landasan bagi terciptanya masalah penelitian;
    1. Prosedur pengumpulan data ditentukan;
    2. Data dikumpulkan dengan menggunakan tehnik-tehnik penelitian yang telah dikemukakan dalam prosedur penelitian;
    3. Data dianalisis untuk menentukan apakah hipotesis yang telah ditentukan itu dibenarkan/diterima ataukah ditolak; dan
    4. Kesimpulan-kesimpulan dari kajian/penelitian yang dilakukan dihubungkan dengan kerangka teori semula yang digunakan, yang dapat menghasilkan sesuatu perubahan dari teori yang digunakan tersebut setelah diperbandingkan dan dianalisis dengan hasil- hasil penemuan dari penelitian tersebut.
      1. D.      Masalah Penelitian

Diantara berbagai kesukaran dalam melaksanakan penelitian sesuai dengan tahapan-tahapan penelitian, yang tersukar adalah pembuatan masalah penelitian. Tahap-tahap lainnya yang ada dalam prosedur penelitian di Indonesia, telah dipecahkan hambatan- hambatannya melalui berbagai kegiatan penataran dan latihan penelitian sehingga para peneliti Indonesia dapat menjadi pengumpul data yang baik. Tetapi pembuatan masalah penelitian memerlukan kesanggupan pengetahuan yang lebih banyak daripada hanya sekedar sebagai pengumpul data; dan kenyataan ini berbeda dengan pandangan orang awam pada umumnya.

Pada umumnya orang awam berpendapat bahwa masalah penelitian dalam kegiatan penelitian ilmu-ilmu sosial adalah sama dengan masalah sosial (yaitu gejala atau serangkaian gejala yang ada dalam kehidupan sosial yang coraknya menyimpang dari keteraturan sosial yang berlaku sehingga oleh para warga masyarakat digolongkan sebagai masalah sosial). Disamping itu, ada juga orang awam yang menganggap bahwa suatu penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari bidang ilmu-ilmu sosial hanyalah bertujuan untuk mengungkapkan hal-hal yang aneh atau unik atau menarik hati. Anggapan-anggapan seperti tersebut diatas tentu saja tidak benar. Karena sama halnya dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli dalam bidang sains dan teknologi, penelitian- penelitian yang dilakukan oleh para ahli ilmu-ilmu sosial juga bertujuan untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsip mendasar yang berlaku umum mengenai hakekat hubungan diantara variabel-variabel yang ada dalam sasaran penelitiannya. Hanya bedanya dengan sains adalah teori-teori yang ditemukan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial adalah teori penjelasan dan bukannya rumus-rumus atau hukum-hukum.

Kalau sebuah masalah sosial itu pada hakekatnya berasal dari dan terwujud dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan, maka sebuah masalah penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Penciptaan sebuah masalah penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada pembuatan sebuah proposisi (teori atau hipotesis yang belum diuji kebenarannya) yang kerangka acuannya adalah hasil pengkajian mengenai kaitan hubungan antara sejumlah teori yang sudah ada dan relevan, dan yang hasil kajian tersebut dikaitkan dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi. Dari hasil kajian tersebut dapat tercipta masalah atau masalah-masalah teori yang perlu dikaji kebenarannya berdasarkan atas fakta-fakta.
  2. Penciptaan sebuah masalah penelitian, dengan demikian, adalah sama juga dengan penciptaan suatu model teori atau hipotesis yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi kegiatan penelitian dan bagi mengungkapkan kebenaran dari proposisi yang telah dibuat tersebut.
  3. Dengan demikian pula, setiap kegiatan ilmiah, sebenarnya sama dengan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menguji dan memantapkan kebenaran sesuatu teori atau teori-teori yang ada dengan berdasarkan atas bukti-bukti yang telah dikumpulkan dalam penelitian.

Pembuatan masalah penelitian dimulai dengan memilih masalah penelitian. Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam memilih sebuah masalah penelitian yaitu;

  1.  Masalah dibuat berdasarkan atas masalah sosial yang ada di dalam kehidupan sehari-hari, yang dilihat dan dirasakan sebagai sebuah masalah oleh para warga masyarakat, yang kemudian diangkat sebagai sebuah masalah konseptual (contoh : Kurangnya Pengaruh Kontrol Orang Tua Terhadap Tingkat Kenakalan Remaja di Jakarta).
  2. Masalah penelitian dapat dibuat berdasarkan atas memperhubungkan kaitan antara satu konsep dengan konsep-konsep lain, yang menuntut dibuatnya penjelasan mengenai hakekat dari kaitan hubungan-hubungan yang diakibatkannya, dan menuntut adanya pembuktian mengenai kebenaran hakekat (teori atau hipotesis) tersebut berdasarkan atas bukti-bukti empirik yang secara obyektif dan ilmiah dapat dipertanggung-jawabkan (contoh: Hubungan Kekerabatan, Hubungan Kerja, dan Keberhasilan Bisnis Keluarga). Dari hasil pemilihan masalah seperti tersebut di atas, yang dihasilkan belumlah berbentuk sebuah masalah penelitian, tetapi baru sebuah Pernyataan Maksud Penelitian atau statement of intent.

Tahap selanjutnya yang harus dilakukan untuk membuat sebuah masalah penelitian adalah mengolah pernyataan maksud penelitian yang telah dibuat melalui tahap-tahap berikut ini.

  1. Membaca, menyeleksi, dan memperdalam konsep-konsep yang relevan dengan masalah penelitian yang dipilih.
  2. Membaca dan menyeleksi hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah penelitian yang telah dipilih dan secara terseleksi menggunakan penemuan-penemuan yang telah dihasilkan berbagai penelitian terdahulu; baik mengenai tesis atau teorinya, maupun mengenai datanya yang relevan kegunaannya bagi masalah penelitian tersebut.
  3. Membuat hipotesis, yaitu memperlakukan masalah penelitian yang telah dipilih itu sebagai terdiri atas satuan-satuan variabel yang hubungan sebab akibat di antara variabel-variabel tersebut menghasilkan hipotesis atau teori yang perlu dibuktikan kebenarannya.
  4. Membaca dan mempelajari wilayah-wilayah masyarakat dan kebudayaannya untuk diseleksi dan dijadikan sasaran penelitian (sebagai kasus) untuk pembuktian kebenaran hipotesis yang telah dibuat.
    1. E.       Subjektivitas dan objektivitas
    2. Subjektivitas
      Seperti telah disinggung di atas bahwa subjektivitas adalah suatu sikap yang memihak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan, dipengaruhi oleh nilai-nilai yang melingkupinya. Dalam sejarah unsur ini banyak terdapat dalam proses interpretasi. Sejarah, dalam mengungkapkan faktanya membutuhkan interpretasi dan interpretasi melibatkan pribadi/subyek. Selain yang diinterpretasikan adalah peristiwa masa lalu yang sudah ditinggalkan. Sekalipun masih ada itu hanya ada dalam pikiran sejarawan/subyek tersebut. Sejarawan tersebut yang hidup di masa kini, tentu saja dalam melakukan interpretasi dipengaruhi oleh keadaan zamannya. Selain itu terdapat faktor lain yaitu menurut pendapat G.G.J Resink yang turut mempengaruhi subyektivitas yaitu lingkungan kultural Indonesia yang majemuk dan terbuka untuk banyak tafsiran, sinkretisme religius dan kultural, kecenderungan untuk mencari ketenangan dengan sikap jujur.
      Untuk itulah, hingga melahirkan subjektivisme, dimana objek tidak lagi dipandang/dinilai sebagaimana seharusnya; tetapi dipandang sebagai “kreasi”, “konstruksi” akal budi. Mengapa subjektif, karena menurut Nugroho bahwa sejawaran tidak menangkap objek, yakni hal-hal yang pernah nyata pada masa lampau dengan menangkap ideanya. Sedangkan idea itu sesuatu yang subjektif. Walaupun demikianbahwa pengetahuan subjektif tidak selalu mutunya lebih rendah dari pengetahuan lainnya.
      Artinya, dari penjelasan ini bahwa unsur subjektif diperbolehkan/dihalalkan selama tidak mengandung subjektivistik yang diserahkan kepada kesewenang-wenangan subjek, dan konsekuensinya tidak lagi real sebagai objektif.
      b.Objektivitas
      Objektivisme yaitu sikap yang tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan didalam mengambil keputusan. Objektivitas sebagai realitas adalah ketidaktersembunyiannya realitas tersebut bagi subjektivistas.
      Seperti yang kita tahu, keberhasilan ilmu pengetahuan alam membuat banyak orang memandangnya sebagai model ideal ilmu. Dalam ilmu pengetahuan alam yang mendasarkan diri pada pengalaman yang didapat lewat indera maka yang terjadi adalah pendekatan pada suatu objek yang dilakukan ilmu pengetahuan alam terjadi lewat cara objek tersebut memberikan dirinya secara lahiriah kepada pancaindera. Dengan demikian, fakta yang konkret dapat dihasilkan dan diujicobakan kebenarannya sesuai dengan hukum-hukum yang dimilikinya. Berbeda dengan sejarah yang objeknya manusia, maka ketika objektivitas dalam ilmu pengetahuan alam tidak dapat diterapkan dalam ilmu sejarah karena subjek penyelidik sejarawan mulai terlibat, disitulah objektivitas sejarah mulai diragukan.
      Dalam sejarah, bagaimanapun subjektivitas merupakan unsur penting bagi terwujudnya ilmu pengetahuan sejarah itu sendiri karena tiada pengetahuan yang tidak berhubungan dengan subjek. Walaupun begitu, sejarah sebagai ilmu dituntut objektif, ilmu tanpa objektivitas tidak mempunyai nilai ilmiah dan akan berhenti sebagai ilmu. Sejarawan berusaha seobjektif mungkin, akan tetapi bagaimanapun objektivitas itu dihasilkan akan tenggelam dalam subjektivitas, sebab untuk dijadikan sejarah, objek harus ditafsirkan oleh subjek. Untuk mendapatkan keobjektivannya, seorang sejarawan harus memiliki filsafat yang sehat, memiliki kejujuran intelektual, dan objektivitas akan semakin didapat dengan semakin kayanya bagasi intelektual, perlengkapan kejiawaan subjektivitas sejarawan. Objektivitas ini dapat dihasilkan dengan menggunakan metode subjektivo-objektif, dengan begitu ilmu disadarkan atau kemungkinannya dan akar konteksnya dalam perspektif rasionalitas yang lebih luas.
      Menurut sejarawan dan filsuf sejarah yang berhaluan Marxi, penulisan sejarah yang objektif tidak mungkin dan tidak perlu dicita-citakan. Hasrat akan tercapainya suatu masyarakat yang lebih baik dan adil harus merupakan nilai dan pedoman menuntun sejarawan dalam penelitiannya.

Objektivitas ilmu

Objektivitas dalam ilmu sering dikaitkan sebagai pengukuran ilmiah yang diuji oleh parailmuwan. Keobjektifan tidak berpihak pada satu subjek saja tetapi dapat diterima oleh semuaorang, karena suatu pernyataan yang diberikan kepada orang-orang tersebut bukan merupakansatu asumsi,prasangka, atupun nilai-nilai yang dianut oleh subjek tertentu. Agar dapat dikatakanobjektif maka hasil dari suatu penelitian ilmiah itu sebaiknya harus disampaikan dari orang keorang, dan kemudian di sampaikan kembali ke orang ketiga yang lebih mengerti akan objektif atau tidaknya hasil penelitian ilmiah tersebut. Pandangan tradisional terhadap objektivitas telahmengabaikan beberapa hal yaitu, pertama dalam pemilihan penelitian objek khusus adalahkeputusan subjektif yang sering dikaitkan dengan reduksionisme. Kedua, berpotensi akanbanyaknya keraguan  dalam hal ukuran metodologi dan instrument nya. Dalam proses penelitianbeberapa kualitas dari objek tersebut akan diabaikan, dan keterbatasan instrument yang dipilihmenyebabkan data harus dipertimbangkan. Subjektivitas di bangun dalam sistem konseptual, iapun dapat dilibatkan dalam rancangan alat yang digunakan dalam penelitian. Jumlah ini bisadibilang objektifitas bahkan tidak mungkin dalam beberapa situasi. Suatu masalah akan timbulapabila tidak memahami batas-batas obyektivitas dalam penelitian ilmiah. Pemilihan objek danpengukuran biasanya subjektif, ketika hasil dari proses subjektif harus disama ratakan dengansystem yang lebih besar dari objek yang telah dipilih.Masalah subjek-objek selalu berkaitan dengan pengalaman manusia itu sendiri ataubagaimana si manusia itu dalam mengkaji suatu masalah. Bagaimana si subjek berhubungandengan objek itu disebut dengan “subjek mengetahui”. Masalah subjek dan objek ada dua yaitu,pertanyaan tentang “apa” yang kita tahu dan “bagaimana” kita tahu apa yang kita tahu.Hasil pengukuran biasanya disajikan dalam skala numeric unit standar sehingga dapatdipahami oleh semua orang. Data nominal harus digunakan, idealnya kriteria objektif untuk menempatkan klasifikasi, seperti dalam penggolongan yang berbeda dapat menghasilkan hasilyang sama. Aspek lain metodologis adalah menghindari bias, yaitu bias kognitif, bias budayaatau bias sampling. Metode untuk mengatasi bias tersebut mencangkup random sampling dan ujicoba. Untuk kesalahan yang tidak disengaja tapi mungkin sistematis, ada kemungkinan hasil

Pendekatan Kualitatif dan Obyektivitas Data                                                            

 

Bila sebuah masalah penelitian telah dibuat, maka tahap berikutnya adalah membuat rencana penelitian, yang pembuatannya dilakukan dengan berlandaskan pada masalah penelitian tersebut. Masalah penelitian menentukan luasnya ruang lingkup dan tingkat kedalaman dari data yang akan dikumpulkan dalam penelitian, serta menentukan pendekatan yang akan digunakan sebagaimana terwujud dalam teknik-teknik pengumpulan data dan analisis data. Dalam penelitian ilmiah, secara garis besarnya terdapat dua golongan pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan sosial manusia, sedangkan pendekatan kuantitatif memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu di dalam kehidupan manusia yang dinamakannya sebagai variabel. Dalam pendekatan kuantitatif hakekat hubungan di antara variabel-variabel dianalisis dengan menggunakan teori yang obyektif, sedangkan di dalam pendekatan kualitatif yang dianalisa bukannya variabel-variabel, yang sebetulnya adalah gejala sosial, tetapi prinsip-prinsip umum yang paling mendasar yang menjadi landasan dari perwujudan satuan-satuan gejala tersebut, yang dianalisis dalam kaitan hubungan dengan prinsip-prinsip umum dari satuan-satuan gejala lainnya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, dan dari hasil analisis tersebut dianalisis lagi dengan menggunakan seperangkat teori yang berlaku.

Dengan demikian, jelas perbedaan sasaran kajian antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif, di mana sasaran kajian kuantitatif adalah gejala, sedangkan sasaran kajian pendekatan kualitatif adalah prinsip-prinsip umum dari perwujudan gejala-gejala. Karena gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan manusia itu terbatas banyaknya, dan tidak terbatas pula kemungkinan-kemungkinan variasi dan hierarkinya, maka juga diperlukan pengetahuan statistik, yang secara kuantitatif berguna untuk menggolong-golongkan dan menyederhanakan variasi dan hierarki yang ada dengan ketepatan yang dapat diukur secara kuantitatif, dan begitu juga dalam hal penganalisaan data yang telah dikumpulkan. Sedangkan di dalam pendekatan kualitatif pengukuran dari makna dan peranan gejala-gejala yang menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku di dalam kebudayaannya tidak dapat dilakukannya secara obyektif dengan menggunakan ketepatan perhitungan kuantitatif karena makna dari satuan-satuan gejala tidak hanya dapat dilihat di dalam satu konteks saja tetapi juga dapat dilihat dari banyak konteks yang tidak terkontrol.

Dalam pendekatan kualitatif yang menjadi sasaran kajian/penelitian adalah kehidupan sosial atau masyarakat sebagai sebuah satuan atau sebuat kesatuan yang menyeluruh. Karena itu pendekatan kualitatif biasanya juga dikaitkan dengan pengertian yang sama dengan pendekatan yang dalam antropologi dikenal dengan istilah pendekatan holistik. Dalam pendekatan tersebut tidak dikenal adanya sampel, tetapi penelitian kasus, yaitu sasaran penelitian dilihat sebagai sebuah kasus yang diteliti secara mendalam dan menyeluruh untuk memperoleh gambaran mengenai prinsip-prinsip umum atau pola-pola yang berlaku umum berkenaan dengan gejala-gejala yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat yang diteliti sebagai kasus tersebut.

Dalam pendekatan kualitatif metode penelitian yang umumnya digunakan adalah :

  1. Metode pengamatan yang digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang diteliti. Dengan menggunakan metode pengamatan seorang peneliti, dengan berpedoman pada kategori dan kelas tingkat gejala yang harus diamati, dapat mengumpulkan kumpulan data yang lengkap berkenaan dengan gejala-gejala (tindakan, benda, peristiwa dsb) dan kaitan hubungan antara satu dengan lainnya yang mempunyai makna bagi kehidupan masyarakat yang diteliti.
  2. Metode pengamatan terlibat, sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan si peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada sesuai makna yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang ditelitinya. Termasuk di dalam pengertian metode pengamatan terlibat adalah melakukan wawancara atau berkomunikasi dengan para warga masyarakat yang diteliti dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarkan.
  3. Wawancara dengan pedoman, adalah suatu teknik untuk mengumpulkan keterangan dari para anggota masyarakat mengenai suatu masalah khusus dengan teknik bertanya yang bebas yang tujuannya adalah memperoleh informasi dan bukannya memperoleh pendapat atau respons. Contoh penggunaan metode wawancara dengan pedoman adalah mengumpulkan data mengenai sistem kekerabatan yang di dalamnya tercakup informasi mengenai aturan-aturan berkenaan dengan struktur kedudukan dan peranan di antara mereka yang tergolong sekerabat dan yang struktur tersebut tercermiun di dalam sistem istilah kekerabatan. Karena itu pemberi keterangan atau informasi di dalam penelitian kualitatif, yang biasanya dilakukan oleh para ahli antropologi, adalah informan. Ini dibedakan dengan penelitian yang menggunakan kuesioner yang pada dasarnya bertujuan mengumpulkan data mengenai respons atau pendapat yang diwawancarai mengenai suatu gejala atau persitiwa, yang pemberi keterangan atau responsnya dinamaka responden.
    1. F.       Contoh masalah yang timbul dalam melakukan studi kepustakaan

Beberapa hambatan yang sering menyebabkan ketidak lancaran kegiatan ini antara lain:

  1. Kurangnya buku atau sumber kepustakaan lain, terutama yang bersifat ilmiah. Sampai saat ini masih terasa sangat kurang bahan kepustakaan ilmiah di Indonesia. Demikian pula bahan kepustakaan ilmiah dari luar negeri juga sulit diperoleh. Hal ini mungkin disebabkan belum berkembangnya system dokumentasi, tidak adanya atau kurangnya komunikasi ilimiah antara peneliti, atau mahalnya biaya kirim atau perizinan, serta hal-hal birokratis lain yang menghambat pemanfaatan informasi ilmiah.
  2. Kelemahan peneliti untuk memahami tulisan-tulisan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ketidakmampuan membaca buku referensi dalam bahasa asing menyebabkan peneliti tidak dapat memanfaatkan informasi ilmiah dari luar negeri. Penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, akan sangat membantu peneliti untuk mengikuti perkembangan informasi ilmiah. Hasil-hasil penelitian dan teori-teori yang sudah dikembangkan dan tertulis dalam bahasa Inggris tidak dimanfaatkan oleh peneliti yang mau memperdalam pengetahuan yang relevan dengan bidangnya bila dia tidak mampu membaca bahasa asing.
  3. Rendahnya minat peneliti untuk membaca tulisan ilmiah untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya masing-masing.

Untuk mengurangi hambatan di atas peneliti dapat menghubungi lembaga lain atau koleganya untuk saling menukar informasi dan meminjam buku-buku ilmiah yang baru. Selain dari itu, usaha menerjemahkan buku-buku berbahasa asing, terutama yang berbahasa Inggris, perlu digalakkan dan ditangani dengan sungguh-sungguh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s