MerdekaKAH kita?

Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah buat bangsa kami, yaitu hari kemerdekaan RI yang ke 66. Mengingat sejarah dahulu, betapa susahnya para pahlawan kita memperjuangkan kemerdekaan kita. Bahkan, setelah diproklamirkannya kemerdekaan, Negara kita pun masih saja diganggu oleh penjajah hingga akhirnya pada konferensi meja bundar Belanda mulai menyerah untuk menggangu Indonesia.
 
Namun, saat ini, Apakah kita betul-betul merdeka????
 Mungkin hal ini sudah banyak orang yang membahasnya apalagi saat 17 agustusan. Ironinya, kenapa tidak ada perubahan yang berarti untuk Indonesia???

 Acara-acara berita di tv, tulisan di media massa, tangisan rakyat dan tulisan rakyat pun sering digelontorkan ke pemerintah sebagai bahan kritikan bangsa. Walaupun pedas tapi pantas. Memang itulah kondisi realita yang terjadi saat ini. Dari segi ekonomi, pembangunan dan kesejahteraan, tidk ada perubahan yang begitu terasa untuk negeri kita. Paling yang sangat begitu terasa adalah korupsi yang makin meningkat di Negara kita dari jaman orde baru hingga reformasi.
Apalah bedanya jaman orde baru dan reformasi jika KKN masih saja ada bahkan tumbuh dengan suburnya?
Bukankah Negara kita sudah sejak lama tahu bahwa penyakit besar bangsa kita adalah KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). 
Tapi kok kenapa gak sembuh-sembuh yaah?
Walaupun gak bisa sembuh secara total, mestinya harus ada upaya berobat untuk menyembuhan diri sehingga penyakit ini gak parah dan menyebar luas. Ibarat sang tubuh, penyakit yang dibiarkan akan menyebar dan merusak jaringan lain. Apabila sudah merusak, akan mengganggu kerja tubuh kita dan bila dibiarkan lagi maka akan semakin kritis dan apabila masih dibiarkan lagi..
Innalillah…
Sepertinya korupsi ini sudah seperti penyakit kanker buat Negara kita. Susah banget disembuhiin….
Badan yang sangat di harapkan untuk menjalankan Negara yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif sepertinya sudah memiliki riwayat penyakit ini. Banyak jaksa yang ditangkap, banyak anggota dewan yang mengalami suap dari para pejabat eksekutif yang melakukan korupsi. Bahkan contoh buruk dari penyakit ini adalah kasus nazaruddin. 
Bisakah kita sembuh dari penyakit ini?
Sewaktu acara tadi malam (16 Agustus 2011) di Jakarta Lawyers Club, TV One, bapak HM Jusuf Kalla memberi angin segar kepada negara kita bahwa sebenarnya penyakit ini masih bisa sembuh ASAL Negara kita mau. Maksudnya semua dari badan eksekutif, legislatif dan yudikatif harus berkomitmen untuk tidak korupsi. Cara komitmennya sendiri itu tergantung dari sikap pemimpin partai dan pemerintah sendiri. Sudah saatnya pemerintah kita harus bertindak tegas untuk korupsi dan menghentikan peluang dari jalannya korupsi seperti kebijakan ketua partai politik yang melarang keras anggota mereka yang berada di pemerintahan menyumbangkan dana untuk partainya dan menghukum seberat-beratnya para pelaku korupsi. Kalau bisa contoh tuuh china. Betapa berat perjuangannya untuk bisa maju seperti saat ini. Dan lihatlah hasilnya Negara china sekarang.. Negara China sudah mulai menjadi Negara maju dan cukup diperhitungkan di dunia. Masalah Negara China juga dulu sama dengan Indonesia. 
Korupsi..korupsii..korupsii..
Tapi tooh dia justru belajar dari kesalahannya. Para pejabat yang terbukti korupsi akan dieksekusi mati. Sadis memang. Tapi itulah hukum yang adil, siapa yang bersalah dia akan mendapat ganjarannya. Kalau untuk kasus nazaruddin dan kawan-kawan, sudah sepantasnyalah dia nanti dihukum seberat-beratnya. Yang penting bisa memberikan efek jera bagi para pelaku korupsilah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s