TEORI BELAJAR SOSIAL

TEORI BELAJAR SOSIAL

Definisi Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial dikenalkan oleh Albert Bandura, yang mana konsep dari teori ini menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Menurut Bandura, orang belajar melalui pengalaman langsung atau pengamatan (mencontoh model). Orang belajar dari apa yang ia baca, dengar, dan lihat di media, dan juga dari orang lain dan lingkungannya. (Sihnu Bagus)

Albert Bandura mengemukakan bahwa seorang individu belajar banyak tentang perilaku melalui peniruan/modeling, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterimanya. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan. Albert Bandura (1971), mengemukakan bahwa teori pembelajaran sosial membahas tentang (1) Bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2) Cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3) Begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan observational opportunity.

Teori belajar sosial menekankan observational learning sebagai proses pembelajaran, yang mana bentuk pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.

Dalam observational learning terdapat empat tahap belajar dari proses pengamatan atau modeling Proses yang terjadi dalam observational learning tersebut antara lain :

  1. Atensi, dalam tahapan ini seseorang harus memberikan perhatian terhadap model dengan cermat.
  2. Retensi, tahapan ini adalah tahapan mengingat kembali perilaku yang ditampilkan oleh model yang diamati maka seseorang perlu memiliki ingatan yang bagus terhadap perilaku model.
  3. Reproduksi, dalam tahapan ini seseorang yang telah memberikan perhatian untuk mengamati dengan cermat dan mengingat kembali perilaku yang telah ditampilkan oleh modelnya maka berikutnya adalah mencoba menirukan atau mempraktekkan perilaku yang dilakukan oleh model.
  4. Motivasional, tahapan berikutnya adalah seseorang harus memiliki motivasi untuk belajar dari model.

Menurut Skinner dan Bandura (dalam Haditono, Knoers, dan Monks 1992) mempunyai pandangan yang empiris dan mendasarkan diri pada teori belajar untuk menjelaskan perkembangan bahasa.

Pandangan ini, bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan dengan tidak membawa kemampuan apapun. Anak masih harus banyak belajar, termasuk juga belajar berbahasa yang dilakukannya melalui imitasi, belajar model, dan belajar dengan reinforcement (penguatan, bala bantuan).

Bandura mencoba menerangkannya dari sudut pandang teori belajar sosial. Ia berpendapat bahwa anak belajar bahasa menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini, tidak mesti harus menerima reinforcememnt sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement luas.

Teori belajar sosial berpangkal pada dalil bahwa tingkah laku manusia sebagian besar berpangkal pada dalili bahwa tingkah laku manusia sebagian besar adalah hasil pemerolehan, dan bahwa prinsip-prinsip belajar adalah cukup untuk menjelaskan bagaimana tingkah laku berkembang dan menetap. Akan tetapi, teori-teori sebelumnya selain kurang memberi perhatian pada konteks sosial dimana tingkah laku ini muncul, juga kurang menyadari fakta bahwa banyak peristiwa belajar yang penting terjadi dengan perantaraan orang lain. Artinya, sambil mengamati tingkah laku orang lain, individu-individu belajar mengimitasi atau meniru tingkah laku tersebut atau dalam hal tertentu menjadikan orang lain model bagi dirinya.

Sosial adalah interaksi atau hubungan yang dilakukan dengan orang banyak yang ditemukannya disekelilingnya dalam menjalankan kehidupan individunya sehari-hari. Sosial membantu tiap anak untuk merasa diterima didalam kelompok, membantu anak belajar berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain, mendorong empati dan saling menghargai terhadap anak-anak maupun orang dewasa. Lingkungan pembelajaran yang paling utama berasal dari keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Yang akan dibahas kali ini adalah lingkungan pembelajaran yang berasal dari teman sebaya, karena melalui teman sebaya, mendorong anak untuk meningkatkan kemampuannya, sekaligus memberikan dukungan sosial kepada anak berupa perhatian, persetujuan, penghargaan sekaligus hukuman, model perilaku yang akan ditiru oleh anak tersebut.

Atkinson Hilgard (1997), mengemukakan pendapatnya bahwa, anak akan mempelajari sebagian besar keterampilan sosialnya dari interaksi dengan sesamanya. Mereka akan belajar memberi memutuskan membagi pengalamannya bersama-sama.

Jika dilihat dari penambahan usia anak, maka permainan menguasi atau permainan yang menampilkan keunggulan akan berkembang menjadi permainan yang intelektual, seperti bermain dengan kata-kata dan ide. Memasuki usia 2 tahun, anaka tidak mampu bermain pura-pura dan meniru tingkah laku yang dilihatnya beberapa waktu sebelumnya, bahkan beberapa hari sebelumnya dengan imajinasi dan bahasa sesungguhnya yang merupakan cara berpikir dan bermain pada anak. Aspek-aspek sosial anak yang akan mulai terlihat adalah anak akan mulai bermain sendiri (soliter), anak mulai bermain parallel (yaitu berada didekat teman sekelas tetapi tanpa interaksi), anak mulai bermain sosial (mulai ada interaksi dengan teman didekatnya ), anak mulai bermain asosiatif (secara berpasangan), anak mulai bermain kooperatif (dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, ada peran masing-masing) dan anak mulai bermain kolaboratif (bersama orang tua, guru, asisten atau orang dewasa lain).

Membantu tiap anak agar merasa diterima didalam kelompok, mengembangkan kompetensi social, membantu anak belajar berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain, mengembangkan empati (merasakan perasaan orang lain) dan (saling) menghargai diri dan lingkungannya (sebaya, orang dewasa, aturan, barang dan alam).

Sikap sosial pada anak yang mengikuti pendidikan apresiasi seni dapat tercermin pola pikir, cara pandang, perasaan dan tingkah laku atau tindakan anak pada objek atau lingkungan sosial yang ada. Dalam hal ini dapat dilihat dari aspek kognitif Subjek yang memiliki pengetahuan, pengertian, dan pemahaman bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat bermacam-macam perbedaan, namun tetap saling menghormati dan menerima. Pada aspek afektif dan aspek konatif yang dimiliki oleh Subjek menunjukkan adanya perasaan senang dapat mengenal, berteman dengan siapapun serta adanya kepedulian terhadap sesama. Subjek juga bersedia memberikan pertolongan kepada orang lain tanpa memandang segala perbedaan seperti beda suku, beda agama, beda budaya , dan lain sebagainya.

Pembentukan sikap sosial pada anak yang mengikuti Pendidikan Apresiasi Seni, dipengaruhi oleh faktor orang tua dan guru, faktor kebudayaan di tempat tinggal masing-masing, dan faktor lembaga pendidikan dan ajaran agama. Masing-masingnya mengarahkan anak mempunyai sikap sosial yang baik melalui penanaman pengetahuan dan contoh, adanya pembiasaan bersosialisasi dengan orang lain baik yang memiliki kesamaan suku, agama, budaya dan lainnya maupun yang tidak. Serta pemberian penjelasan dari sekolah dan ajaran agama tentang berkomunikasi, berhubungan dengan sesama manusia, termasuk didalamnya didukung oleh kegiatan Pendidikan Apresiasi Seni yang diikuti anak di sekolahnya.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap Sosial

Menurut Prasetyo dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengemukakan bahwa: “Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap sosial adalah sebagai berikut: (a) Faktor Indogen: faktor pada diri anak itu sendiri seperti faktor imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan (b) Faktor Eksogen; faktor yang berasal dari luar seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah” (Prasetyo, 1997 : 96).

Dari pendapat ahli tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap sosial adalah sebagai berikut: (a) Faktor Indogen; faktor sugesti, identifikasi, dan imitasi  (b) Faktor Eksogen; faktor yang berasal dari luar seperti lingkunga keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing faktor yang mempengaruhi sikap sosial tersebut.

 

a.       Faktor Indogen

Faktor indogen adalah faktor yang mempengaruhi sikap sosial anak yang datang dari dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini dapat dibedakan menjadi tiga faktor yaitu: a) faktor sugesti,  b) faktor identifikasi, dan c) faktor imitasi. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat masing-masing faktor tersebut.

1).    Faktor Sugesti

Dalam buku Psikologi Kepribadian dijelaskan bahwa: “Sugesti adalah proses seorang individu didalam berusaha menerima tingkah laku maupun prilaku orang lain tanpa adanya kritikan terlebih dahulu” (Nawawi, 2000 : 72).

Dari pendapat ahli tersebut diatas, dapat dikatakan sugesti dapat mempengaruhi sikap sosial seseorang sedangkan anak yang tidak mampu bersugesti cenderung untuk tidak mau menerima keadaan orang lain, seperti tidak merasakan penderitaan orang lain, tidak bisa bekerjasama dengan orang lain dan sebagainya.

2). Faktor Identifikasi

Identifikasi dilakukan kepada orang lain yang dianggapnya ideal atau sesuai dengan dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Nawawi dalam bukunya Interaksi Sosial dijelaskan bahwa: “Anak yang mengidentifikasikan dirinya seperti orang lain akan mempengaruhi perkembangan sikap sosial seseorang, seperti anak cepat merasakan keadaan atau permasalahan orang lain yang mengalami suatu problema (permasalahan)” (Nawawi, 2000 : 82).

Menurut pendapat ahli tersebut diatas jelaslah bahwa seseorang yang berusaha mengidentifikasikan diri dengan keadaan orang lain akan lebih mampu merasakan keadaan orang lain, daripada seorang anak yang tidak mau mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain yang cenderung mampu merasakan keadaan orang lain.

3).  Faktor Imitasi

Imitasi dapat mendorong seseorang untuk berbuat baik. Pada buku Psikologi Pendidikan dijelaskan bahwa: “Sikap seseorang yang berusaha meniru bagaimana orang yang merasakan keadaan orang lain maka ia berusaha meniru bagaimana orang yang merasakan sakit, sedih, gembira, dan sebagainya. Hal ini penting didalam membentuk rasa kepedulian sosial seseorang” (Purwanto, 1999 : 65). Sedangkan ahli lain mengatakan pula bahwa: “Anak-anak yang meniru keadaan orang lain, akan cenderung mampu bersikap sosial, daripada yang tidak mampu meniru keadaan orang lain” (Nawawi, 2000 : 42). 

Dari kedua pendapat tersebut diatas, jelaslah bahwa imitasi dapat mempengaruhi sikap sosial seseorang, dimana seseorang yang berusaha meniru (imitasi) keadaan orang lain akan lebih peka dalam merasakan keadaan orang lain, apakah orang sekitarnya itu dalam keadaan susah, senang ataupun gembira.

 

b.      Faktor Eksogen

Faktor eksogen adalah faktor yang mempengaruhi sikap sosial anak dari luar dirinya sendiri. Dalam hal ini menurut Soetjipto dan Sjafioedin dalam bukunya Metodologi Ilmu Pengetahuan Sosial dijelaskan bahwa: “Ada tiga faktor yang mempengaruhi sikap sosial anak yaitu: ” a) faktor lingkungan keluarga, b) faktor lingkungan sekolah dan c) faktor lingkungan masyarakat” (Soetjipto dan Sjafiodin, 1994 : 22) . Berikut ini akan dijelaskan secara singkat masing-masing faktor tersebut.

1).  Faktor Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan tumpuan dari setiap anak,  keluarga   merupakan lingkungan yang pertama dari anak dari keluarga pulalah anak menerima pendidikan karenanya keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam perkembangan anak. Keluarga yang baik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan anak, demikian pula sebaliknya. Dalam buku Psikologi Pendidikan dijelaskan bahwa: “Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian, keluarga yang tidak harmonis, yang tidak memanjakan anak-anaknya dapat mem-pengaruhi sikap sosial bagi anak-anaknya” (Purwanto, 1999 : 89).

Dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa keharmonisan dalam keluarga, anak yang mendapatkan kasih sayang serta keluarga yang selalu memberikan perhatian kepada anak-anaknya merupakan peluang yang cukup besar didalam mempengaruhi timbulnya sikap sosial bagi anak-anaknya.

2). Faktor Lingkungan Sekolah

Dalam bukunya Psikologi Sosial dijelaskan bahwa: “Keadaan sekolah seperti cara penyajian materi yang kurang tepat serta antara guru dengan murid mempunyai hubungan yang kurang baik akan menimbulkan gejala kejiwaan yang kurang baik bagi siswa yang akhirnya mempengaruhi sikap sosial seorang siswa” (Ahmadi, 1996 : 65). Selanjutnaya dalam buku Interaksi Sosial dijelaskan bahwa: “Ada beberapa faktor lain di sekolah yang dapat mempengaruhi sikap sosial siswa yaitu tidak adanya disiplin atau peraturan sekolah yang mengikat siswa untuk tidak berbuat hal-hal yang negatif ataupun tindakan yang menyimpang” (Nawawi, 2000 : 66).

Dari kedua pendapat ahli diatas, maka faktor lingkungan sekolah yang dapat mempengaruhi sikap sosial siswa adalah cara penyajian materi, prilaku maupun sikap dari para gurunya, tidak adanya disiplin atau peraturan-peraturan sekolah yang betul-betul mengikat siswa.

3). Faktor Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan tempat berpijak para remaja sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa melepaskan diri dari masyarakat. Anak dibentuk oleh lingkungan masyarakat dan dia juga sebagai anggota masyarakat, kalau lingkungan sekitarnya itu baik akan berarti sangat membantu didalam pembentukkan keperibadian dan mental seorang anak, begitu pula sebaliknya kalau lingkungan sekitarnya kurang baik akan berpengaruh kurang baik  pula terhadap sikap sosial  seorang anak, seperti tidak mau merasakan keadaan orang lain. Dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa: “Lingkungan masyarakat yang bisa mempengaruhi timbulnya berbagai sikap sosial pada anak seperti cara bergaul yang kurang baik, cara menarik kawan-kawannya dan sebaginya” (Sarwono, 1997 : 59). Selanjutnya dalam buku Interaksi Sosial dijelaskan bahwa: “Pergaulan sehari-hari yang kurang baik bisa mendatangkan sikap sosial yang kurang baik, begitu sebaliknya dimana suatu lingkungan masyarakat yang baik akan mendatangkan sikap sosial yang baik pula terhadap anak” (Nawawi, 2000 : 45).Dengan demikian dari uraian dan pendapat ahli tersebut diatas, maka lingkungan masyarakat sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukkan sikap sosial seorang anak, begitu pula sebaliknya lingkungan masyarakat yang kurang baik akan menimbulkan sikap sosial yang kurang baik pula terhadap anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Belajar Sosial. http://id.wikipedia.org.

Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Anonim. 2010. Teori Belajar Sosial. http://depe.blog.uns.ac.id.

Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Bagus, Sihnu. 2010. Definisi Teori Belajar Sosial.

http://all-about-theory.blogspot.com. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Bintang. 2008. Teori Belajar Sosial. http://bintangbangsaku.multiply.com.

Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Endriani, Ani S.Pdi, MA. 2011. Faktor-Mempengaruhi-Sikap-Sosial.

http://aniendriani.blogspot.com. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Nawawi, Hadori. 2000. Intereksi Sosial. Jakarta : Gunung Agung.

 

Nazlah. 2008. Sikap Sosial Pada Anak yang Mengikuti Pendidikan Apresiasi Seni.

http://etd.eprints.ums.ac.id. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2011.

 

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1997. Psikologi Sosial. Yogyakarta : Andi.

 

Soetjipto dan Sjaefieoden,. 1994. Metodologi Ilmu Sosial. Jakarta.

 

 

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s